Sabtu, 23 November 2013

PROBLEMATIKA DAN PENYIMPANGAN DALAM BAHASA INDONESIA



BAB I
PENDAHULUAN
A.   LATAR BELAKANG
Problematika gejala bahasa Indonesia, yakni gejala bahasa kontaminasi, pleonasme, hiperkorek, serta beberapa gejala bahasa yang lain. Begitu banyaknya Problematika tersebut sehingga banyak terjadi kesalahan dalam menggunakan tata bahasa Indonesi. Baik dalam penulisan maupun  pengucapannya. Dalam pemakaian bahasa Indonesia, termasuk bahasa Indonesia ragam ilmiah, sering dijumpai  penyimpangan dari kaidah yang berlaku sehingga mempengaruhi kejelasan pesan yang disampaikan.
B.   RUMUSAN MASALAH
Dalam pembahasan makalah ini yang menjadi rumusan masalah yaitu;
1.    Apa fungsi bahasa Indonesia dan apa saja komponen yang berhubungan dengan sikap bahasa?
2.    Apa saja yang termasuk problematika dan penyimpangan dalam bahasa Indonesia?
3.    Adakah problem gejala bahasa yang lain dalam menggunakan bahasa Indonesia?
C.   MANFAAT PENULISAN
Dengan dibuatnya makalah ini, diharapkan dapat bermanfaat baik untuk pembaca maupun untuk penulis sendiri dan juga bisa digunakan sebagai mana mestinya. Dan terlebih lagi kita bisa membedakan mana bahasa Indonesia yang baik dan juga benar.
D.   TUJUAN PENULISAN
Perubahan bahasa terjadi karena banyak hal diantaranya karena:
1.    Menyamakan sesuatu karena terjadinya kerancuan berbahasa
2.    Memudahkan pelavalan sehingga dalam pengucapannya pun terasa lebih enak.
3.    Membetulkan kalimat sesuai dengan TBBBI.

E.   METODE PENULISAN
Dalam penulisan makalah gejala bahasa Indonesia ini penulis memilih metode liberaly riset dimana penulis mengkaji permasalahan bersumber dari kajian kepustakaan. Dalam kajian kepustakaan biasanya penulis lebih megutamakan sumber kajian dari buku-buku referensi, ataupun kalau memungkinkan penulis juga mengambil dari perpustakaan online.
Dalam hal ini penulis menganalisis buku Problematika Berbahasa Indonesia karya Prof. St. Y. Slamet, M.Pd. yang diterbitkan pada tahun 2010, beserta buku tulisan Harimurti Kridalaksana dan Alam Sutawijaya. Selain itu, penulis juga mengambil referensi dari internet, diantaranya dari blog penulis di www.tiyapoenya.blogspot.com-gejala-bahasa-

BAB II
PROBLEMATIKA DAN PENYIMPANGAN DALAM BAHASA INDONESIA
A.   PENGENALAN BAHASA INDONESIA
Sebelum kita membahas problematika dan penyimpangan dalam bahasa Indonesia sebaiknya kita pengenalan bahasa Indonesia dan mengetahui fungsi bahasa Indonesia terlebih dahulu. Agar kita tidak salah kaprah dalam menterjemahkan apa yang akan kita bahas dalam makalah ini.
Fungsi bahasa Indonesia adalah sebagai bahasa pemersatu bangsa Indonesia yang terdiri dari kepulauan. Dalam berbagai bidang khususnya bidang keilmuan bahasa Indonesia digunakan sebagai bahasa pengantar. Dengan begitu besarnya peranan bahasa Indonesia dalam kehidupan masyarakat Indonesia, maka tidak heran perkembangan bahasa Indonesia sangat pesat seiring dengan perkembangan manusianya (penuturnya).
Salah satu aspek kebahasaan yang belum banyak disinggung peneliti linguistik adalah aspek bahasa dilihat dari segi struktural yang berdampingan dengan aspek sosial dan psikis (kejiwaan), yaitu tentang kontaminasi dan pleonasme.Kedua bentuk tersebut merupakan kekurang sempurnaan bahasa apabila ditinjau dari sudut kebakuan gramatikalnya.Di antara keduanya memilki sifat yang berlawanan dalam kekurang sempurnaan bahasa.
Kontaminasi merupakan penggunaan bahasayang rancu akibat dari hilangnya sebagian atau beberapa segmen dari suatu tuturan.Pleonasme merupaakan penggunaan tuturan yang berlebihan.Kontaminasi dan pleonasmedalam  bahasa berhubungan dengan sikap bahasa. Sikapbahasa merupakan sikap kejiwaan dan sikap pada umumnya. Ada tiga komponenyang berhubungan dengan sikap bahasa yaitu;
1.    Komponen kognitif yaitu bertalian dengan proses berpikir penutur (pemakai) bahasa dan bersifat mentalitas.
2.    Komponen afektif yaitu komponen yang pemakaian bahasanya berhubungan dengan perasaan.
3.    komponen konatif yaitu yang berhubungan denganperilaku kebahasaan.[1]
Sikap-sikap bahasa bagi penutur merupakanhal yang fital bagi perkembangan bahasa itu sendiri, misalnya dalam upayastandarisasi, pembakuan, atau pembentukan tata bahasa.Upaya-upaya yang demikianberkaitan erat dengan fungsi bahasa dan sikap bahasa.[2]Dengandemikian sikap bahasa menentukan pengembangan kebahasaan.
Beberapa kendala yang sering muncul dan bersifat kontras dengan sikap bahasayang baik Diantaranya adalah kurang dikuasainya kaidah-kaidah kebahasaan yangberlaku, atau ketidaktaatan pemakai bahasa terhadap kaidah kebahasaan yangdikuasainya. Hal ini sering disadari oleh pemilik dan pemakai bahasa, sehinggamenghambat proses perkembangan bahasa.Kerancuan bahasa lebih dikenal dengan kontaminasi, yang sering ditemukanpada bahasa ragam lisan, walaupun tidak menutup kemungkinan terjadi pada ragam tulis.
Seorang penutur lisan biasa tidak menyadari apakah bahasa yang digunakansudah cukup baik menuangkan pikiran-pikirannya.Aspek penting yang selalu diperhatikanpenutur adalah aspek informatifnya, yaitu mitra tutur harus mampu menangkap topik pembicaraan. Kadangkala seorang penutur secara naluri akan merasakan apabila tuturannya kurang sempurna, penutur akan selalu memperbaiki tuturan yangdirasakan kurang lengkap itu. Dengan demikian aspek kejiwaan memperngaruhikebahasaan seseorang.
Gejala bahasa yang paling banyak muncul dalam penulisan atau berbicara yaitu kontaminasi dan pleonasme. Untuk jenis gejala bahasa yang lain seperti protesis, epentesis dan sebagainya sangat jarang dijumpai. Kontaminasi dan pleonasme berhubungan erat.Dalam suatu gejalakontaminasi sering didapati gejala pleonasme, walaupun dari segi bahasa keduaistilah itu berlawanan, yaitu kurang lengkap (rancu) dan berlebihan.

B.   PROBLEM DAN PENYIMPANGAN DALAM BAHASA INDONESIA
Penyimpangan atau Problematika dalam berbahasa Indonesia dapat diklasifikasikan sebagai berikut;
1.    Problem Gejala Kontaminasi
Istilah kontaminasi diambil dari bahasa Inggris contamination (pencemaran).Dalam ilmu bahasa kata itu diterjemahkan dengan “kerancuan”.Rancu artinya “kacau” dan kerancuan berarti “kekacauan”.Yang dimaksud kacau ialah susunan unsur bahasa yang tidak tepat, seperti morfem dan kata.Morfem-morfem yang salah disusun menimbulkan kata yang salah sedangkan kata yang salah susunannya menimbulkan frasa yang kacau.
Kontaminasi adalah suatu gejala bahasa yang rancu atau kacau susunan, baik susunan kalimat, kata, atau bentuk katanya.Problem tersebut dapat diatasi jika kalimat yang rancu tersebut dikembalikan kepada dua kalimat asal yang betul strukturnya.Demikian juga dengan susunan kata atau frasa atau bentuk kata. Gejala bahasa ini dalam bahasa Indonesia dinamakan kerancuaan atau disebut juga kekacauan.
Yang dirancukan ialah susunan, atau penggabungannya.Misalnya dua kata yang digabungkan dalam satu gabungan baru yang tidak berpadanan.Sedangkan yang dimaksud gejala bahasa kontaminasi adalah gejala bahasa yang terjadi karena kerancuan atau kekacauan.[3]Kerancuan atau kekacauan yang dimaksud dalam hal ini yaitu susunan, perangkaian, atau penggabungan yang seharusnya merupakan bentuk tersendiri tetapi dipadukan.
Kontaminasi terjadi karena salah nalar atau penggabungan dua hal yang berbeda sehingga menjadi suatu hal yang tumpang-tindih.Peristiwa semacam ini sering terjadi, walaupun memang tidak mengganggu makna yang sebenarnya, namun hanya tidak sesuai dengan diksi yang diperlukan dalam konteks tersebut.Oleh karena itu jelas gejala semacam ini termasuk bidang diksi.Gejala kontaminasi ini dapat dibedakan menjadi tiga macam.yaitu:
a.    Problem Kontaminasi kalimat.
Pada dasarnya kalimat yang kacau (rancau) dapat dikembalikan kepada dua kalimat asal yang benar susunan (struktur)nya. Susunan tersebut juga bisa berupa susunan kata dalam suatu frasa yang rancu. Penyebab timbulnya gejala kontaminasi ini ada dua hal, yaitu:
1)    Penguasaan penggunaan bahasa seseorang dalam menyusu kalimat, frasa atau menggunakan imbuhan dalam membentuk kata kurang tepat.
2)    Seseorang dalam menggabungkan dua bentuk itu melahirkan susunan yang kacau.
Contoh kalimat rancu;
Ø Di dalam kelas anak-anak dilarang tidak boleh ramai.
Ø Kepada yang merasa kehilangan kunci mobil, harap datang di pos satpam.
Kalimat-kalimat di atas dikembalikan kepada kalimat asalnya (baku)nya:
Ø Di dalam kelas anak-anak tidak boleh ramai.
Ø Kepada yang merasa kehilangan kunci mobil, diberitahukan supaya mengambilnya di pos satpam.
b.    Problem Kontaminasi Kata
Di dalam pemakaiaan bahasa sehari-hari, kita sering menjumpai bentuk kata seperti: “barang kali” dan “sering kali”. Bentuk kata “barang kali” tersebut kalau dikembalikan kepada asalnya terjadi dari kata “berulang-ulang” dan “berkali-kali”.Demikian pula “sering kali” kontaminasi dari sering dan banyak kali atau kerap kali atau acap kali.Selain dari kontaminasi, kata ”sering kali” berupa gejala “pleonasme”, karena sering artinya berulang-ulang. Contoh:
Ø Ani sudah berulang-ulang ayah nasehati, tetapi tidak juga berubah kelakuannya.(berkali-kali).
Ø Sering kali anak itu melanggar tata tertib sekolah.(kerap kali)
Ø Jangan biarkan adik makan makanan yang pedas, karena kesehatannya belum pulih benar.(tidak boleh).
c.   Problem Kontaminasi Kata
Kontaminasi dalam bentukkata  sering dijumpai pada bentuk kata dengan imbuhan (afiks). Contoh;
Ø Di SMA kami dipelajarkan beberapa keterampilan.
Bentuk kalimat di atas yang benar adalah diajarkan.

Ø Contoh kontaminasi imbuhan:
(meng+kesamping+kan)→mengesampingkan           (benar)
(men+samping+kan)      →menyampingkan           (benar)
                                                    ↓
                                        Mengenyampingkan (kontaminasi)
Ø Contoh kontaminasi frasa:
Berulang-ulang           (benar)
Berkali-kali                  (benar)
Berulang kali               (kontaminasi)
Ø Contoh kontaminasi kalimat:
Rapat itu dihadiri oleh para pejabat setempat. (benar)
Dalam rapat itu, hadir para pejabat setempat. (benar)
Dalam rapat itu dihadiri oleh para pejabat setempat. (kontaminasi)

2.    Pleonastis atau Pleonasme

Kata “pleonasmeberarti kata-kata yang berlebih-lebihan. Kata tersebut berasal dari kata “ploenazein”(bahasa Grika) atau berasal dari kata “plenasnus” (bahasa latin). Oleh sebab itu, gejala pleonasme dalam bahasa Indonesia berarti pemakaiaan kata yang berlebih-lebihan, yang sebenarnya tidak perlu.
Pleonasme adalah kesalahan berbahasa karena kelebihan dalam pemakaian kata yang sebenarnya tidak diperlukan.Pleonasme juga bisa diartikan sifat yang berlebihan. Konkretnya, penggunaan dua kata yang sama arti sekaligus, tetapi sebenarnya tidak perlu, baik untuk penegas arti maupun hanya sebagai gaya. itulah pleonasme.Gejala pleonasme adalah gejala penggunaan unsur bahasa berupa kata yang berlebih-lebihan.[4]Penyebab timbulnya problem gejala pleonasme tersebut dikarenakan beberapa kemungkinan antara lain:
a.       Pembicara tidak tahu bahwa kata-kata yang digunakannya mengungkapkan pengertian yang berlebih-lebihan.
b.      Pembicara dengab sengaja sebagai salah satu bentuk gaya bahasa untuk memberikan tekanan pada arti.
c.        Pembicara tidak sadar bahwa apa yang diucapkannya itu mengandung sifat berlebih-lebihan

Pleonasme adalah suatu penggunaan unsure-unsur bahasa secara tidak efektif.Ada kecenderungan bahwa gejala pleonasme ini untuk menyatakan unsur emosi atau perasaan penutur.Pleonasme ada tiga macam yaitu;
a.    Penggunaan dua kata yang bersinonim dalam satu kelompok kata, Contoh;
terjadi sejak April               (benar)
terjadi mulai April               (benar)
mulai terjadi sejak April     (pleonasme)

b.    Bentuk jamak dinyatakan dua kali. Contoh;                  
tarik-menarik                     (benar)
saling menarik                    (benar)
saling tarik-menarik         (pleonasme)
c.    Penggunaan kata tugas (keterangan) yang tidak diperlukan karena  pernyataannya sudah cukup jelas. Contoh-contoh kalimat yang mengandung kesalahan pleonasme antara lain:
Ø  Banyak tombol-tombol yang dapat anda gunakan.
Kalimat ini seharusnya: Banyak tombol yang dapat Anda gunakan.
Ø  Kita harus saling tolong-menolong.
Kalimat ini seharusnya: Kita harus saling menolong, atau Kita seharusnya tolong-menolong.
3.    Salah pemilihan atau penyisipan kata di antara dua kata dari sebuah frasa terikat. Contoh:
Ø  Saya mengetahui kalau ia kecewa.
Seharusnya: Saya mengetahui bahwa ia kecewa.
Ø Pustaka itu peneliti akan rujuk. (tidak baku)
Seharusnya: Pustaka itu akan peneliti rujuk. (baku)
4.    Salah Nalar. Contoh:
Ø  Bola gagal masuk gawang.
Seharusnya: Bola tidak masuk gawang.

5.    Pengaruh bahasa asing atau daerah (Interferensi)
Pengaruh bahasa asing yang menimbulkan kesalahan dalam berbahasa Indonesia ialah pemakaian kata tugas (kata ganti penghubung) seperti: Yang mana, dimana, kepada siapa.
Pengaruh bahasa daerah yang menimbulkan kesalahan dalam berbahasa Indonesia ada dua macam:
a.    Pengaruh dalam pembentukan kata, yaitu pemakaian awalan ke-(yang seharusnya awalan ter- ) dan penghilangan imbuhan.
v  Contoh pemakaian awalan ke- :
Ø  kepakai, kesusun, keuji (tidak baku)
Menjadi: Terpakai, tersusun, teruji (baku)
v  Contoh penghilangan imbuhan:
Ø  Data itu dipindah ke komputer lain.(tidak baku)
Menjadi: Data itu dipindahkan ke komputer lain. (baku)
b.    Pengaruh dalam susunan kalimat, penggunaan akhiran–nya. Contoh:
Ø  Lulusannya IT Telkom sangat diminati.(tidak baku)
Menjadi: Lulusan IT Telkom sangat diminati.(baku)

Contoh kalimat yang mengandung kesalahan karena terpengaruh bahasa asing terlihat pada kalimat berikut:
Ø  Saya tinggal di Semarang di mana ibu saya bekerja.
Kalimat ini bisa jadi mendapatkan pengaruh bahasa Inggris, lihat terjemahan kalimat berikut:
Ø  I live in Semarang where my mother works.
Dalam bahasa Indonesia sebaiknya kalimat tersebut menjadi:
Ø  Saya tinggal di Semarang tempat ibu saya bekerja.
6.    Hiperkorek
         Hiperkorek adalah kesalahan berbahasa karena “membetulkan” bentuk yang sudah benar sehingga menjadi salah.Gejala hiperkorek ini  Problemnya bentuk yang sudah betul kemudian dibetulkanlagi akhirnya menjadi salah. Gejala hiperkorek selalu menunjukkan sesuatu yang salah, baik ucapan maupun di dalam ejaan(tulisan).
a.    Alasan yang menyebabkan Timbulnya gejala hiperkorek di antaranya:
1.    Orang tidak tahu mana yang asli, yang betul, lalu meniru saja yang diucapkan atau yang dituliskan oleh orang lain.
2.    Karena gengsi(gagah), ingin terlihat hebat.
3.    Dari segi linguistic ( f, kh, sy, z) bukan fonem-fonem bahasa Indonesia asli. Itu sebabnya variasi antara f – p, kh – k, sy – s, z – j, tidak menimbulkan perbedaan arti. Contoh:
Ø Sy/ diganti dengan /s/ atau sebaliknya.
Syarat dijadikan sarat atau sebaliknya, padahal kedua kata itu masing-masing mempunyai arti yang berbeda.Syarat artinya ketentuan, sarat artinya penuh.
~ Kita harus mengikuti syarat itu.
~ Mobil itu sarat muatan.
b.    Beberapa contoh gejala hiperkorek dalam bahasa Indonesia yaitu:
1.    Gejala hiperkorek /s/ dijadikan /sy/
Contoh: sah – syah, sahadat – syahadat, setan – syetan.
2.    Gejala hiperkorek /z/ dijadikan /j/
Contoh: zaman – jaman, izin – ijin, izasah – ijasah, ziarah – jiarah, zenasah – jenasah.
3.    Gejala hiperkorek /h/ dijadikan /kh/
Contoh: ihtiar – ikhtiar, hayal – khayal, husus – khusus, ahir – akhir.
4.    Gejala hiperkorek dengan /au/ pengganti /o, e/
Contoh: taubat – tobat, sentausa – sentosa, tauladan – teladan, taurot – torat, taupan – topan.
7.    Kesalahan berbahasa yang berhubungan dengan     pemakaian atau penghilangan kata tugas. Kesalahan pemakaian kata tugas dalam berbahasa Indonesia ada tiga macam:
a.    Ketidaktepatan kata tugas yang digunakan. Contoh:
Ø  Hipotesis daripada penelitian ini terbukti. (tidak tepat)
Menjadi: Hipotesis penelitian ini terbukti.(baku)
b.    Pemakaian kata tugas yang tidak diperlukan. Contoh:
Ø  Dalam penyusunan makalah ini dibantu oleh berbagai pihak. (tidak baku).
Menjadi: Penyusunan makalah ini dibantu oleh berbagai pihak. (baku).
c.    Penghilangan kata tugas yang diperlukan. Contoh:
Ø  Data dikumpulkan sesuai kriteria yang sudah ditentukan. (tidak baku).
Menjadi: Data dikumpulkan sesuai dengan kriteria yang sudah ditentukan. (baku).
8.  Perombakan Bentuk Pasif
a. Penghilangan awalan di-untuk bentuk pasif yang seharusnya menggunakan awalan di-. Contoh:
Ø  Praktik kerja lapangan ini mahasiswa semester enam lakukan. (tidak baku)     
Menjadi: Praktik kerja lapangan ini dilakukan oleh mahasiswa semester enam. (baku)
Ø  Pustaka itu peneliti rujuk. (tidak baku)
Menjadi: Pustaka itu dirujuk oleh peneliti. (baku)

C.   BEBERAPA GEJALA BAHASA YANG LAIN
1.      Gejala Bahasa Metatesis
         Metatesis artinya pertukaran (urutan atau tempat) fonem di dalam sebuah kata. Misalnya: berantas menjadi banteras, kerikil menjadi kelikir, kaca menjadi acak, milih menjadi limih.
2.      Gejala Bahasa Adaptasi
         Artinya penyesuaian kata-kata serapan yang diambil dari bahasa asing berubah bunyinya.sesuai dengan penerimaan, pendengaran atau ucapan lidah orang Indonesia. Misalnya: Lobi dari loby(bahasa Inggris), klaim dari claim(bahasa Inggris), majelis dari majlis (bahasa arab), Karier dari carrier (bahasa Belanda), seluler dari celluair (bahasa belanda).
3.      Gejala Bahasa Kontraksi
         Artinya penghilangan, Gejala kontraksi ini memperlihatkan adanya satu atau lebih fonem yang dihilangkan. Misalnya: rembulan menjadi bulan, mahardika menjadi merdeka, matahari menjadi mentari.
4.      Gejala Penambahan Fonem
Gejala penambahan fonem dapat dibedakan menjadi tiga macam, yaitu:
a.    Gejala Protesis adalah penambahan fonem di depan.
Misalnya: mas, lang, sa menjadi emas, elang esa.
b.    Gejala Epentesis adalah penambahan fonem di tengah.
Misalnya: sapu, mukin, sajak menjadi sampu, mungkin, sanjak.
c.    Gejala Parogo adalah penambahan fonem di belakang.
Misalnya: hulubala, sila, ina menjadi hulu balang, silah, inang.
5.    Gejala Penghilangan Fonem
Gejala penghilangan fonem juga dibedakan menjadi tiga macam, yaitu:
a.    Penghilangan fonen pada awal kata disebtu afaresis.
b.    Penghilangan fonem di tengah kata disebut sinkop.
c.    Penghilangan fonem di akhir kata disebut apokop.
Contoh:
Ø Gejala afaresis: Umaju menjadi maju. Esa menjadi sa.
Ø Gejala sinkop: sahaya, kelemarin memjadi saya, kemarin.
Ø Gejala apokop: eksport menjadi ekspor, import menjadi impor.
6.    Gejala bahasa yang lain
*      Protesis (penambahan di awal)
Contoh: mas  emas, lang  elang
*      Efentesis (penambahan di tengah)
Contoh: kapak  kampak, tubuh  tumbuh
*      Paragog (di akhir)
Contoh: hulubala  hulubalang
*      Afanesis
Contoh: stani  tani, telentang  tentang
*      Hapologi (berkurang dua fonem di tengah)
Contoh: baharu  baru
*      Sinkop
Contoh: sahaya  saya, bahasa  basa
*      Apakop
Contoh: tidak  tida, Import  impor
*      Assimilasi total
Contoh: Al+salam  assalam  asalam
*      Asimilasi parsial/sejalan
Contoh: in+perfect  imperfect  imperfek
            Harus diketahui bahwa dalam bahasa Indonesia ada dua kata baku yang berlainan asalnya dan berlainan pula artinya. Yang pertama ialah kata baku yang baru saja kita bicarakan. Yang kedua adalah kata baku yang diserap dari bahasa Jawa yang berarti pokok atau utama.


BAB III
PENUTUP
A.   KESIMPULAN
            Begitu banyak kesalahan atau penyimpangan dalam pemakaian berbahasa Indonesia.Termasuk bahasa Indonesia ragam ilmiah, sering dijumpai penyimpangan dari kaidah yang berlaku sehingga mempengaruhi kejelasan pesan atau tulisan yang disampaikan. Diantaranya adalah:
1.    Kontaminasi
2.    Pleonasme
3.    Salah pemilihan atau penyisipan kata di antara dua kata dari sebuah frasa terikat.
4.    Salah Nalar
5.    Pengaruh bahasa asing atau daerah (Interferensi)
6.    hiperkorek
7.    Kesalahan berbahasa yang berhubungan dengan pemakaian atau penghilangan kata tugas.
8.    Perombakan bentuk pasif
            Dengan begitu banyak kesalahan atau pun penyimpangan dalam bahasa Indonesia diharapkan bagi bangsa Indonesia untuk dapat mengetahui dan memahami bahasa Indonesia yang baik dan benar.

B.   SARAN
            Sebagai bangsa Indonesia yang baik tentunya kita harus mampu menguasai bahasa Indonesia itu sendiri. Karena kebanyakan orang mengaku bangsa Indonesia tetapi mereka sendiri tidak mampu berbahasa Indonesia.Jangan pernah malu menjadi bangsa dan berbahasa Indonesia. Kalau bukan kita, siapa lagi yang mau membanggakannya????.Semangat dan jangan pernah berhenti untuk belajar.


DAFTAR PUSTAKA
·         Suswito, 1985:87.
·         Harimurti, 1984: 42.
·         Badudu,1981:47. Dan hal:55.
·         St.Y. Slamet, 2010. Problematika berbahasa Indonesia. Surakarta.
·         Widya Sari, Kridalaksana, Harimurti. (2008). Kamus Linguistik (edisi ke-Edisi Keempat). Jakarta:Gramedia Pustaka Utama. ISBN 978-979-22-3570-8
·         Kridalaksana, Harimurti. (1996). Pembentukan Kata dalam Bahasa Indonesia. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama
·         Alam Sutawijaya, dkk. (1996). Morfologi Bahasa Indonesia. Jakarta: Departemen Pendidikan Kebudayaan.
·         www.tiyapoenya.blogspot.com-gejala-bahasa- diunduh tanggal,5 November 2011.
·         http://bundaarik.multiply.com/journal/item/29-diunduh hari Senin,10 November 2011
·         http://www.scribd.com/doc/8963368/Th-Js-Badudu- diunduh hari Senin, 21 November 2011.
·         http://www.scribd.com/doc/30828869/Gejala-Bahasa-diunduh hari Senin, 10 November 2011.



[1]Suswito, 1985:87.
[2] Harimurti, 1984: 42.
[3] Badudu, 1981: 47.
[4] Badudu, 1981:55.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar