PENDAHULUAN
A. LATAR
BELAKANG
Problematika gejala
bahasa Indonesia, yakni gejala bahasa kontaminasi, pleonasme, hiperkorek, serta
beberapa gejala bahasa yang lain. Begitu banyaknya Problematika tersebut
sehingga banyak terjadi kesalahan dalam menggunakan tata bahasa Indonesi. Baik
dalam penulisan maupun pengucapannya. Dalam pemakaian bahasa Indonesia,
termasuk bahasa Indonesia ragam ilmiah, sering dijumpai penyimpangan dari
kaidah yang berlaku sehingga mempengaruhi kejelasan pesan yang disampaikan.
B. RUMUSAN
MASALAH
Dalam pembahasan makalah ini yang menjadi rumusan masalah
yaitu;
1. Apa
fungsi bahasa Indonesia dan apa saja komponen yang berhubungan dengan sikap
bahasa?
2. Apa saja yang termasuk
problematika dan penyimpangan dalam bahasa Indonesia?
3. Adakah problem gejala
bahasa yang lain dalam menggunakan bahasa Indonesia?
C. MANFAAT
PENULISAN
Dengan dibuatnya
makalah ini, diharapkan dapat bermanfaat baik untuk pembaca maupun untuk
penulis sendiri dan juga bisa digunakan sebagai mana mestinya. Dan terlebih
lagi kita bisa membedakan mana bahasa Indonesia yang baik dan juga benar.
D. TUJUAN
PENULISAN
Perubahan bahasa terjadi karena banyak hal diantaranya karena:
1. Menyamakan sesuatu
karena terjadinya kerancuan berbahasa
2. Memudahkan pelavalan
sehingga dalam pengucapannya pun terasa lebih enak.
3.
Membetulkan kalimat
sesuai dengan TBBBI.
E. METODE
PENULISAN
Dalam penulisan makalah
gejala bahasa Indonesia ini penulis memilih metode liberaly riset dimana
penulis mengkaji permasalahan bersumber dari kajian kepustakaan. Dalam kajian
kepustakaan biasanya penulis lebih megutamakan sumber kajian dari buku-buku
referensi, ataupun kalau memungkinkan penulis juga mengambil dari perpustakaan
online.
Dalam hal ini penulis
menganalisis buku Problematika Berbahasa Indonesia karya Prof. St. Y. Slamet,
M.Pd. yang diterbitkan pada tahun 2010, beserta buku tulisan Harimurti
Kridalaksana dan Alam Sutawijaya. Selain itu, penulis juga mengambil referensi
dari internet, diantaranya dari blog penulis di www.tiyapoenya.blogspot.com-gejala-bahasa-
BAB
II
PROBLEMATIKA DAN PENYIMPANGAN DALAM BAHASA
INDONESIA
A. PENGENALAN
BAHASA INDONESIA
Sebelum kita membahas problematika
dan penyimpangan dalam bahasa Indonesia sebaiknya kita pengenalan bahasa
Indonesia dan mengetahui fungsi bahasa Indonesia terlebih dahulu. Agar kita
tidak salah kaprah dalam menterjemahkan apa yang akan kita bahas dalam makalah
ini.
Fungsi bahasa Indonesia adalah
sebagai bahasa pemersatu bangsa Indonesia yang terdiri dari kepulauan. Dalam
berbagai bidang khususnya bidang keilmuan bahasa Indonesia digunakan sebagai
bahasa pengantar. Dengan begitu besarnya peranan bahasa Indonesia dalam
kehidupan masyarakat Indonesia, maka tidak heran perkembangan bahasa Indonesia
sangat pesat seiring dengan perkembangan manusianya (penuturnya).
Salah satu aspek kebahasaan yang
belum banyak disinggung peneliti linguistik adalah aspek bahasa dilihat dari
segi struktural yang berdampingan dengan aspek sosial dan psikis (kejiwaan),
yaitu tentang kontaminasi dan pleonasme.Kedua bentuk tersebut merupakan
kekurang sempurnaan bahasa apabila ditinjau dari sudut kebakuan gramatikalnya.Di
antara keduanya memilki sifat yang berlawanan dalam kekurang sempurnaan bahasa.
Kontaminasi merupakan penggunaan
bahasayang rancu akibat dari hilangnya sebagian atau beberapa segmen dari suatu
tuturan.Pleonasme merupaakan penggunaan tuturan yang berlebihan.Kontaminasi dan
pleonasmedalam bahasa berhubungan dengan
sikap bahasa. Sikapbahasa merupakan sikap kejiwaan dan sikap pada umumnya. Ada
tiga komponenyang berhubungan dengan sikap bahasa yaitu;
1. Komponen kognitif yaitu bertalian
dengan proses berpikir penutur (pemakai) bahasa dan bersifat mentalitas.
2. Komponen afektif yaitu komponen yang
pemakaian bahasanya berhubungan dengan perasaan.
3. komponen konatif yaitu yang
berhubungan denganperilaku kebahasaan.[1]
Sikap-sikap bahasa bagi penutur
merupakanhal yang fital bagi perkembangan bahasa itu sendiri, misalnya dalam
upayastandarisasi, pembakuan, atau pembentukan tata bahasa.Upaya-upaya yang
demikianberkaitan erat dengan fungsi bahasa dan sikap bahasa.[2]Dengandemikian
sikap bahasa menentukan pengembangan kebahasaan.
Beberapa kendala yang sering muncul
dan bersifat kontras dengan sikap bahasayang baik Diantaranya adalah kurang
dikuasainya kaidah-kaidah kebahasaan yangberlaku, atau ketidaktaatan pemakai
bahasa terhadap kaidah kebahasaan yangdikuasainya. Hal ini sering disadari oleh
pemilik dan pemakai bahasa, sehinggamenghambat proses perkembangan bahasa.Kerancuan
bahasa lebih dikenal dengan kontaminasi, yang sering ditemukanpada bahasa ragam
lisan, walaupun tidak menutup kemungkinan terjadi pada ragam tulis.
Seorang penutur lisan biasa tidak
menyadari apakah bahasa yang digunakansudah cukup baik menuangkan
pikiran-pikirannya.Aspek penting yang selalu diperhatikanpenutur adalah aspek
informatifnya, yaitu mitra tutur harus mampu menangkap topik pembicaraan.
Kadangkala seorang penutur secara naluri akan merasakan apabila tuturannya
kurang sempurna, penutur akan selalu memperbaiki tuturan yangdirasakan kurang
lengkap itu. Dengan demikian aspek kejiwaan memperngaruhikebahasaan seseorang.
Gejala bahasa yang paling banyak muncul dalam
penulisan atau berbicara yaitu kontaminasi dan pleonasme. Untuk jenis gejala
bahasa yang lain seperti protesis, epentesis dan sebagainya sangat jarang
dijumpai. Kontaminasi dan
pleonasme berhubungan erat.Dalam suatu gejalakontaminasi sering didapati gejala
pleonasme, walaupun dari segi bahasa keduaistilah itu berlawanan, yaitu kurang
lengkap (rancu) dan berlebihan.
B.
PROBLEM
DAN PENYIMPANGAN DALAM BAHASA INDONESIA
Penyimpangan atau Problematika dalam
berbahasa Indonesia dapat diklasifikasikan sebagai berikut;
1.
Problem Gejala Kontaminasi
Istilah kontaminasi diambil dari
bahasa Inggris contamination (pencemaran).Dalam ilmu bahasa kata itu diterjemahkan
dengan “kerancuan”.Rancu artinya “kacau”
dan kerancuan berarti “kekacauan”.Yang
dimaksud kacau ialah susunan unsur bahasa yang tidak tepat, seperti morfem dan
kata.Morfem-morfem yang salah disusun menimbulkan kata yang salah sedangkan kata
yang salah susunannya menimbulkan frasa yang kacau.
Kontaminasi adalah suatu
gejala bahasa yang rancu atau kacau susunan, baik susunan kalimat, kata, atau bentuk
katanya.Problem tersebut dapat diatasi jika kalimat yang rancu tersebut
dikembalikan kepada dua kalimat asal yang betul strukturnya.Demikian juga
dengan susunan kata atau frasa atau bentuk kata. Gejala bahasa ini dalam bahasa
Indonesia dinamakan kerancuaan atau disebut juga kekacauan.
Yang dirancukan ialah
susunan, atau penggabungannya.Misalnya dua kata yang digabungkan dalam satu gabungan
baru yang tidak berpadanan.Sedangkan yang dimaksud gejala bahasa kontaminasi adalah gejala bahasa
yang terjadi karena kerancuan atau kekacauan.[3]Kerancuan
atau kekacauan yang dimaksud dalam hal ini yaitu susunan, perangkaian, atau
penggabungan yang seharusnya merupakan bentuk tersendiri tetapi dipadukan.
Kontaminasi terjadi karena salah
nalar atau penggabungan dua hal yang berbeda sehingga menjadi suatu hal
yang tumpang-tindih.Peristiwa semacam ini sering terjadi, walaupun memang tidak mengganggu
makna yang sebenarnya, namun hanya tidak sesuai dengan diksi yang diperlukan
dalam konteks tersebut.Oleh karena itu jelas gejala semacam ini termasuk bidang
diksi.Gejala kontaminasi ini
dapat dibedakan menjadi tiga macam.yaitu:
a.
Problem Kontaminasi kalimat.
Pada
dasarnya kalimat yang kacau (rancau) dapat dikembalikan kepada dua kalimat asal
yang benar susunan (struktur)nya. Susunan tersebut juga bisa berupa susunan
kata dalam suatu frasa yang rancu. Penyebab timbulnya gejala kontaminasi ini
ada dua hal, yaitu:
1) Penguasaan penggunaan
bahasa seseorang dalam menyusu kalimat, frasa atau menggunakan imbuhan dalam membentuk
kata kurang tepat.
2)
Seseorang dalam menggabungkan dua bentuk itu melahirkan susunan
yang kacau.
Contoh kalimat rancu;
Ø Di dalam kelas anak-anak
dilarang tidak boleh ramai.
Ø Kepada yang merasa
kehilangan kunci mobil, harap datang di pos satpam.
Kalimat-kalimat di atas
dikembalikan kepada kalimat asalnya (baku)nya:
Ø Di dalam kelas anak-anak
tidak boleh ramai.
Ø Kepada yang merasa
kehilangan kunci mobil, diberitahukan supaya mengambilnya di pos satpam.
b.
Problem Kontaminasi Kata
Di
dalam pemakaiaan bahasa sehari-hari, kita sering menjumpai bentuk kata seperti:
“barang kali” dan “sering kali”. Bentuk kata “barang kali” tersebut kalau
dikembalikan kepada asalnya terjadi dari kata “berulang-ulang” dan
“berkali-kali”.Demikian pula “sering kali” kontaminasi dari sering dan banyak
kali atau kerap kali atau acap kali.Selain dari kontaminasi, kata ”sering kali”
berupa gejala “pleonasme”, karena sering artinya berulang-ulang. Contoh:
Ø Ani sudah berulang-ulang
ayah nasehati, tetapi tidak juga berubah kelakuannya.(berkali-kali).
Ø Sering kali anak itu
melanggar tata tertib sekolah.(kerap kali)
Ø
Jangan biarkan adik makan makanan yang pedas, karena kesehatannya
belum pulih benar.(tidak boleh).
c.
Problem Kontaminasi Kata
Kontaminasi dalam
bentukkata sering dijumpai pada bentuk
kata dengan imbuhan (afiks). Contoh;
Ø Di SMA kami dipelajarkan
beberapa keterampilan.
Bentuk kalimat di atas
yang benar adalah diajarkan.
Ø
Contoh
kontaminasi imbuhan:
(meng+kesamping+kan)→mengesampingkan
(benar)
(men+samping+kan)
→menyampingkan (benar)
↓
Mengenyampingkan
(kontaminasi)
Ø Contoh kontaminasi frasa:
Berulang-ulang
(benar)
Berkali-kali
(benar)
Berulang
kali
(kontaminasi)
Ø
Contoh
kontaminasi kalimat:
Rapat
itu dihadiri oleh para pejabat setempat. (benar)
Dalam rapat
itu, hadir para pejabat setempat. (benar)
Dalam rapat itu
dihadiri oleh para pejabat setempat. (kontaminasi)
2.
Pleonastis
atau Pleonasme
Kata “pleonasme”berarti
kata-kata yang berlebih-lebihan. Kata tersebut berasal dari kata “ploenazein”(bahasa
Grika) atau berasal dari kata “plenasnus” (bahasa latin). Oleh
sebab itu, gejala pleonasme dalam bahasa Indonesia berarti pemakaiaan kata yang
berlebih-lebihan, yang sebenarnya tidak perlu.
Pleonasme adalah kesalahan berbahasa
karena kelebihan dalam pemakaian kata yang sebenarnya tidak diperlukan.Pleonasme
juga bisa diartikan sifat yang berlebihan. Konkretnya, penggunaan dua kata yang
sama arti sekaligus, tetapi sebenarnya tidak perlu, baik untuk penegas arti
maupun hanya sebagai gaya. itulah pleonasme.Gejala pleonasme adalah gejala penggunaan
unsur bahasa berupa kata yang berlebih-lebihan.[4]Penyebab timbulnya
problem gejala pleonasme tersebut dikarenakan beberapa kemungkinan antara lain:
a. Pembicara tidak tahu
bahwa kata-kata yang digunakannya mengungkapkan pengertian yang
berlebih-lebihan.
b.
Pembicara dengab sengaja sebagai salah satu bentuk gaya bahasa
untuk memberikan tekanan pada arti.
c.
Pembicara tidak sadar bahwa
apa yang diucapkannya itu mengandung sifat berlebih-lebihan
Pleonasme adalah suatu penggunaan
unsure-unsur bahasa secara tidak efektif.Ada kecenderungan bahwa gejala
pleonasme ini untuk menyatakan unsur emosi atau perasaan penutur.Pleonasme ada
tiga macam yaitu;
a. Penggunaan dua kata yang bersinonim
dalam satu kelompok kata, Contoh;
terjadi sejak
April
(benar)
terjadi mulai
April
(benar)
mulai terjadi
sejak April (pleonasme)
b. Bentuk jamak dinyatakan dua kali.
Contoh;
tarik-menarik
(benar)
saling
menarik
(benar)
saling tarik-menarik
(pleonasme)
c. Penggunaan kata tugas (keterangan)
yang tidak diperlukan karena pernyataannya sudah cukup jelas. Contoh-contoh
kalimat yang mengandung kesalahan pleonasme antara lain:
Ø Banyak
tombol-tombol yang dapat anda gunakan.
Kalimat
ini seharusnya: Banyak tombol yang dapat Anda gunakan.
Ø Kita harus saling tolong-menolong.
Kalimat
ini seharusnya: Kita harus saling menolong, atau Kita seharusnya
tolong-menolong.
3. Salah
pemilihan atau penyisipan
kata di antara dua kata dari sebuah frasa terikat. Contoh:
Ø Saya
mengetahui kalau ia kecewa.
Seharusnya:
Saya mengetahui bahwa ia kecewa.
Ø Pustaka itu peneliti akan rujuk.
(tidak baku)
Seharusnya: Pustaka itu akan
peneliti rujuk. (baku)
4.
Salah
Nalar. Contoh:
Ø
Bola
gagal masuk gawang.
Seharusnya: Bola tidak masuk gawang.
5. Pengaruh bahasa asing atau daerah (Interferensi)
Pengaruh bahasa asing yang menimbulkan
kesalahan dalam berbahasa Indonesia ialah pemakaian kata tugas (kata ganti
penghubung) seperti: Yang mana, dimana, kepada siapa.
Pengaruh bahasa daerah yang menimbulkan
kesalahan dalam berbahasa Indonesia ada dua macam:
a.
Pengaruh
dalam pembentukan kata, yaitu pemakaian awalan ke-(yang seharusnya
awalan ter- ) dan penghilangan imbuhan.
v Contoh pemakaian awalan ke- :
Ø kepakai, kesusun, keuji (tidak baku)
Menjadi:
Terpakai, tersusun, teruji (baku)
v Contoh penghilangan imbuhan:
Ø Data itu dipindah ke komputer
lain.(tidak baku)
Menjadi:
Data itu dipindahkan ke komputer lain. (baku)
b.
Pengaruh dalam susunan kalimat,
penggunaan akhiran–nya. Contoh:
Ø
Lulusannya IT Telkom sangat
diminati.(tidak baku)
Menjadi:
Lulusan IT Telkom sangat diminati.(baku)
Contoh
kalimat yang mengandung kesalahan karena terpengaruh bahasa asing terlihat pada
kalimat berikut:
Ø
Saya
tinggal di Semarang di mana ibu saya bekerja.
Kalimat
ini bisa jadi mendapatkan pengaruh bahasa Inggris, lihat terjemahan kalimat
berikut:
Ø
I
live in Semarang where my mother works.
Dalam bahasa Indonesia sebaiknya
kalimat tersebut menjadi:
Ø
Saya
tinggal di Semarang tempat ibu saya bekerja.
6. Hiperkorek
Hiperkorek
adalah kesalahan berbahasa karena “membetulkan” bentuk yang sudah benar
sehingga menjadi salah.Gejala hiperkorek ini
Problemnya bentuk yang sudah betul kemudian dibetulkanlagi akhirnya
menjadi salah. Gejala hiperkorek selalu menunjukkan sesuatu yang salah, baik
ucapan maupun di dalam ejaan(tulisan).
a. Alasan yang menyebabkan Timbulnya
gejala hiperkorek di antaranya:
1. Orang tidak tahu mana yang asli,
yang betul, lalu meniru saja yang diucapkan atau yang dituliskan oleh orang
lain.
2. Karena gengsi(gagah), ingin terlihat
hebat.
3. Dari segi linguistic ( f, kh, sy, z)
bukan fonem-fonem bahasa Indonesia asli. Itu sebabnya variasi antara f – p, kh
– k, sy – s, z – j, tidak menimbulkan perbedaan arti. Contoh:
Ø Sy/ diganti dengan /s/ atau
sebaliknya.
Syarat
dijadikan sarat atau sebaliknya, padahal kedua kata itu masing-masing mempunyai
arti yang berbeda.Syarat artinya ketentuan, sarat artinya penuh.
~ Kita harus mengikuti syarat itu.
~ Mobil itu sarat muatan.
b. Beberapa contoh gejala hiperkorek
dalam bahasa Indonesia yaitu:
1. Gejala hiperkorek /s/ dijadikan /sy/
Contoh: sah – syah, sahadat –
syahadat, setan – syetan.
2. Gejala hiperkorek /z/ dijadikan /j/
Contoh: zaman – jaman, izin – ijin,
izasah – ijasah, ziarah – jiarah, zenasah – jenasah.
3. Gejala hiperkorek /h/ dijadikan /kh/
Contoh: ihtiar – ikhtiar, hayal –
khayal, husus – khusus, ahir – akhir.
4. Gejala hiperkorek dengan /au/
pengganti /o, e/
Contoh: taubat – tobat, sentausa –
sentosa, tauladan – teladan, taurot – torat, taupan – topan.
7. Kesalahan berbahasa yang berhubungan
dengan pemakaian atau penghilangan kata tugas. Kesalahan
pemakaian kata tugas dalam berbahasa Indonesia ada tiga macam:
a. Ketidaktepatan kata tugas yang
digunakan. Contoh:
Ø Hipotesis daripada penelitian
ini terbukti. (tidak tepat)
Menjadi: Hipotesis penelitian ini
terbukti.(baku)
b.
Pemakaian
kata tugas yang tidak diperlukan. Contoh:
Ø Dalam penyusunan makalah ini dibantu oleh
berbagai pihak. (tidak baku).
Menjadi: Penyusunan makalah ini
dibantu oleh berbagai pihak. (baku).
c. Penghilangan kata tugas yang
diperlukan. Contoh:
Ø Data dikumpulkan sesuai kriteria
yang sudah ditentukan. (tidak baku).
Menjadi: Data dikumpulkan sesuai dengan
kriteria yang sudah ditentukan. (baku).
8. Perombakan Bentuk Pasif
a. Penghilangan awalan di-untuk
bentuk pasif yang seharusnya menggunakan awalan di-. Contoh:
Ø Praktik kerja lapangan ini mahasiswa
semester enam lakukan. (tidak baku)
Menjadi: Praktik kerja lapangan ini
dilakukan oleh mahasiswa semester enam. (baku)
Ø Pustaka itu peneliti rujuk. (tidak
baku)
Menjadi: Pustaka itu dirujuk oleh
peneliti. (baku)
C.
BEBERAPA
GEJALA BAHASA YANG LAIN
1.
Gejala
Bahasa Metatesis
Metatesis artinya pertukaran (urutan
atau tempat) fonem di dalam sebuah kata. Misalnya: berantas menjadi banteras,
kerikil menjadi kelikir, kaca menjadi acak, milih menjadi limih.
2.
Gejala
Bahasa Adaptasi
Artinya penyesuaian kata-kata serapan
yang diambil dari bahasa asing berubah bunyinya.sesuai dengan penerimaan,
pendengaran atau ucapan lidah orang Indonesia. Misalnya: Lobi dari loby(bahasa
Inggris), klaim dari claim(bahasa Inggris), majelis dari majlis (bahasa arab),
Karier dari carrier (bahasa Belanda), seluler dari celluair (bahasa belanda).
3.
Gejala
Bahasa Kontraksi
Artinya penghilangan, Gejala kontraksi
ini memperlihatkan adanya satu atau lebih fonem yang dihilangkan. Misalnya:
rembulan menjadi bulan, mahardika menjadi merdeka, matahari menjadi mentari.
4.
Gejala
Penambahan Fonem
Gejala
penambahan fonem dapat dibedakan menjadi tiga macam, yaitu:
a. Gejala Protesis adalah penambahan fonem di depan.
Misalnya:
mas, lang, sa menjadi emas, elang esa.
b. Gejala Epentesis adalah penambahan fonem di tengah.
Misalnya:
sapu, mukin, sajak menjadi sampu, mungkin, sanjak.
c. Gejala Parogo adalah penambahan fonem di
belakang.
Misalnya:
hulubala, sila, ina menjadi hulu balang, silah, inang.
5.
Gejala
Penghilangan Fonem
Gejala penghilangan fonem juga dibedakan menjadi tiga macam,
yaitu:
a. Penghilangan fonen pada awal kata
disebtu afaresis.
b. Penghilangan fonem di tengah kata
disebut sinkop.
c. Penghilangan fonem di akhir kata
disebut apokop.
Contoh:
Ø
Gejala
afaresis: Umaju menjadi maju. Esa menjadi sa.
Ø
Gejala
sinkop: sahaya, kelemarin memjadi saya, kemarin.
Ø
Gejala
apokop: eksport menjadi ekspor, import menjadi impor.
6. Gejala bahasa yang lain
Contoh:
mas emas, lang elang
Contoh: kapak
kampak, tubuh tumbuh
Contoh:
hulubala hulubalang
Contoh: stani
tani, telentang tentang
Contoh: baharu
baru
Contoh: sahaya
saya, bahasa basa
Contoh: tidak
tida, Import impor
Contoh: Al+salam
assalam asalam
Contoh:
in+perfect imperfect imperfek
Harus diketahui bahwa dalam bahasa
Indonesia ada dua kata baku yang berlainan asalnya dan berlainan pula artinya.
Yang pertama ialah kata baku yang baru saja kita bicarakan. Yang kedua adalah
kata baku yang diserap dari bahasa Jawa yang berarti pokok atau utama.
BAB III
PENUTUP
A.
KESIMPULAN
Begitu banyak kesalahan atau
penyimpangan dalam pemakaian berbahasa Indonesia.Termasuk bahasa Indonesia ragam ilmiah, sering dijumpai
penyimpangan dari kaidah yang berlaku sehingga mempengaruhi kejelasan pesan
atau tulisan yang disampaikan. Diantaranya adalah:
1. Kontaminasi
2. Pleonasme
3. Salah
pemilihan atau penyisipan
kata di antara dua kata dari sebuah frasa terikat.
4. Salah Nalar
5. Pengaruh
bahasa asing atau daerah (Interferensi)
6. hiperkorek
7. Kesalahan berbahasa yang berhubungan
dengan pemakaian atau penghilangan kata tugas.
8. Perombakan bentuk pasif
Dengan
begitu banyak kesalahan atau pun penyimpangan dalam bahasa Indonesia diharapkan
bagi bangsa Indonesia untuk dapat mengetahui dan memahami bahasa Indonesia yang
baik dan benar.
B. SARAN
Sebagai bangsa Indonesia yang baik
tentunya kita harus mampu menguasai bahasa Indonesia itu sendiri. Karena
kebanyakan orang mengaku bangsa Indonesia tetapi mereka sendiri tidak mampu
berbahasa Indonesia.Jangan pernah malu menjadi bangsa dan berbahasa Indonesia.
Kalau bukan kita, siapa lagi yang mau membanggakannya????.Semangat dan jangan
pernah berhenti untuk belajar.
DAFTAR PUSTAKA
·
Suswito, 1985:87.
·
Harimurti, 1984: 42.
·
Badudu,1981:47. Dan hal:55.
·
St.Y. Slamet, 2010. Problematika berbahasa Indonesia. Surakarta.
·
Widya Sari, Kridalaksana, Harimurti. (2008). Kamus Linguistik
(edisi ke-Edisi Keempat). Jakarta:Gramedia Pustaka Utama. ISBN
978-979-22-3570-8
·
Kridalaksana, Harimurti. (1996). Pembentukan Kata dalam Bahasa
Indonesia. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama
·
Alam Sutawijaya, dkk. (1996). Morfologi Bahasa Indonesia. Jakarta:
Departemen Pendidikan Kebudayaan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar