NAMA : EIS KOMALA Ns
SEMESTER/SUB : IV
(REGULER)/PAI - STAI - MIHTAHUL HUDA SUBANG
MATA KULIAH :
FILSAFAT PENDIDIKAN ISLAM
DOSEN : Drs. ABDUL
KODIR. M.Pd.I
TENTANG : RESENSI
BUKU FILSAFAT PENDIDIKAN ISLAM
KARYA /PENERBIT : Dra. Zuhairini, dkk. / BUMI AKSARA
KELEBIHAN
: Setelah saya membaca buku ini dapat saya simpulkan bahwa buku ini menjelaskan
tentang bagaimana filsafat, baik filsafat umum maupun filsafat pendidikan
islam. dan cakupan buku ini bukan hanya menjelaskan bagaimana berfilsafat namun
juga disertai berbagai ayat-ayat Al-Qur’an dan juga Hadits-hadits sebagai
penguat hukum dalam berfilsafat. Sehingga pembacanya pun bukan hanya memahami
ilmu berfilsafat saja, melainkan juga mengenal berbagai penjelasan-penjelasan
ayat Al-Qur’an dan Al-Hadits.
KEKURANGAN
: Dalam buku karya Zuhairini, dkk. Ada beberapa hal yang kurang jelas dalam
penyampaian materi, sehingga bagi pembaca yang awam tentu sangat kesulitan
memahami sdan mengerti maksusd dari penjelasan tersebut. Seperti dalam bab
aliran-aliran dalam filsafat dan juga pemikiran-pemikiran dalam pendidikan
islam. Hal lain salah satu kekurangannya yaitu kurangnya penjabaran yang lebih
terperinci dalam pembahasan buku tersebut.
BAB
I : ARTI FILSAFAT DAN PERKEMBANGANNYA
Filsafat
berasal dari kata philosophia dalam bahasa yunani yang berarti cinta
kebijaksanaan. Sedangkan definisi filsafat menurut Dr. Harun Nasution yaitu “berpikir
menurut tata tertib (logika) dengan bebas (tidak terikat pada tradisi, norma
serta agama) dan dengan sedalam-dalamnya sehingga sampai ke dasar-dasar
persoalannya”. Dari berbagai pengertian
dan definisi filsafat menurut para ahli maka Sidi Gazalba memberikan kesimpulan
bahwa “kita dapat berfilsafat tentang pengertian filsafat”. Selain itu filsafat
juga sering di kategorikan sebagai induk
dari segala cabang ilmu pengetahuan. Dalam perkembangannya, filsafat banyak
sekali mengalami perubahan terutama dalam fungsinya yang tadinya sebagai induk
ilmu pengetahuan (the mother of sicences) menjadi semacam pendekatan dan
perekat kembali berbagai macam ilmu pengetahuan yang telah berkembang pesat
yang menjadi terpisah satu dengan lainnya. Begitu juga filsafat pendidikan
mengalami perubahan dan kemajuan yang cukup besar sesuai dengan perkembangan
pada perputaran dan perubahan zaman.
BAB
II : ANALISIS FILSAFAT DAN TEORI PENDIDIKAN
Masalah
pendidikan adalah masalah hidup dan kehidupan manusia. Proses pendidikan berada
dan berkembang bersama proses perkembangan hidup dan kehidupan manusia. Dan
pada hakekatnya keduanya adalah proses
yang satu. Pendidikan adalah usaha manusia dewasa yang telah sadar akan
kemanusiannya, dalam membimbing, melatih, mengajar dan menananmkan nilai-nilai
serta dasar-dasar pandangan hidup kepada generasi muda, agar nantinya menjadi
manusiavyang sadar dan bertanggung jawab akan tugas-tugas hidupnya sebagai
manusia, sesuai dengan sifat hakikat dan cirri-ciri kemanusiaannya.
Analisa
filsafat merupakan salah satu cara pendekatan yang di gunakan para ahli
pendidikan dalam memecahkan problematika pendidikan dan menyusun teori-teori
pendidikannya, di samping menggunakan metode-metode ilmiah lainnya. Selain itu
hubungan antara filsafat pendidikan dan system atau teori pendidikan yaitu
bahwa yang satu “supplemen” terhadap yang lain dan keduanya diperlukan oleh
setiap guru sebagai pendidik dan bukan hanya sebagai pengajar bidang studi
tertentu.
BAB
III : ALIRAN-ALIRAN DALAM FILSAFAT PENDIDIKAN
Perkembangan
pemikiran dalam dunia filsafat pendidikan memiliki bebagai aliran. Diantaranya:
a. Aliran
Progressivisme-Pragmatisme
Aliran ini dihubungkan dengan pandangan hidup liberal,
yang memiliki sifat fleksibel (tidak kaku, tidak menolak suatu perubahan, tidak
terikat oleh dooktrin tertentu), corious (ingin mengetaui, ingin menyelidiki),
toleran dan open-minded (mempunyai hati terbuka). Aliran pragmatisme diketahui
sebagai filsafat dan progressivisme sebagai pendidikan. Dan aliran ini
bekembang pesat di wilayah amerika serikat.
b. Aliran
Esensialisme
Aliran ini berbeda dan bertolak belakang dengan aliran
progressivisme, sebab aliran ini memandang bahwa, pendidikan harus berpijak
pada nilai-nilai yang memiliki kejelasan dan tahan lama, sehingga memberikan
kestabilan dan arah yang jelas. Esensialisme di dasari atas pandanga humanism
yang merupakan reaksi terhadap hidup yang mengarah pada keduniawian, serba
ilmiah dan materialistik. Tujuan umum aliran esensialisme adalah membentuk
pribadi bahagia dunia dan akhirat.
c. Aliran
Perennialisme
Aliran ini mengandung kepercayaan filsafat yang berpegang
pada nilai-nilai dan norma-norma yang bersifat kekal dan abadi. Prinsip-prinsip
pendidikan ini sangat di pengaruhi oleh tokoh-tokohnya, diantaranya yaitu:
Plato, Aristoteles, dan Thomas Aquinas. Dan perkembangan prinsip ini telah
mempengaruhi sistem pendidikan modern.
d. Aliran
Rekonstruksionalisme
Aliran ini tidak jauh berbeda dengan aliran
perennialisme, hanya saja jalan yang di tempuhnya berbeda. Yakni sesuai istilah
yang di kandungnya, yaitu berusaha membina suatu consensus yang paling luas dan
paling mungkin tentang tujuan utama dan tertinggi dalam kehidupan manuisa –
restore to the original form.
e. Aliran
Eksistensialisme
Aliran
ini hakikatnya merupakan aliran filsafat yang bertujuan mengembalikan kebenaran
umat manusia sesuai dengan keadaan hidup asasi yang dimiliki dan dihadapinya.
Sebagai aliran filsafat aliran ini berbeda dengan filsafat eksistensi. Paham
eksistensialisme secara radikal menghadapkan manusia pada dirinya sendiri,
sedangkan filsafat eksistensi adalah benar-benar sebagai arti katanya, yaitu :
”filsafat yang menempatkan cara wujud manusia sebagai tema sentral”. Secara
singkat Kierkegaard memberikan pengertian eksistensialisme adalah suatu
penolakan terhadap suatu pemikiran abstrak, tidak logis atau tidak ilmiah.
Eksistensialisme menolak segala bentuk kemutlakan rasional. Dan pandangan aliran
ini tentang pendidikan, disimpulkan oleh Van Cleve Morris dalam Existentialism
and Education, bahwa “Eksistensialisme tidak menghendaki adanya aturan-aturan
pendidikan dalam segala bentuk”.
BAB
IV : HAKIKAT DAN PENGERTIAN ISLAM
Islam
adalah agama Allah, yang berarti islam adalah jalan menuju kepada Allah dan
yang bersumber dari pada-Nya. Islam sendiri yaitu menempuh jalan keselamatan,
dengan jalan menyerahkan diri sepenuhnya kepada Tuhan, dan melaksanakan dengan
penuh kepatuhan dan ketaatan akan segala ketentuan-ketentuan dan aturan-aturan
yang ditetapkan oleh-Nya, untuk mencapai kesejahteraan dan kesentausaan hidup
dengan penuh keamanan dan kedamaian. Pandangan Islam tentang filsafat
sebagaimana banyak dalil-dalil yang menjelaskan bahwa islam tidak mencegah
orang mempelajari atau mendalami filsafat, bahkan menganjurkan orang
berfilsafat, berpikir menurut logika untuk memperkuat kebenaran yang dibawa
oleh Al-Qur’an dengan dalil akal dan pembahasan rasional.
Hakikat
islam sendiri yaitu sebagai gejala alami yang universal, yakni islam pada
hakekatnya adalah jalan hidup yang alami, jalan hidup yang sesuai dengan
menurut kenyataan, jalan hidup yang menurut hukum-hukum dan proses alamiah, dan
jalan hidup menurut aturan-aturan dan hukum-hukum yang telah ditetapkan oleh
Allah SWT. Selain itu, hakikat Islam juga sebagai agama yang universal dan
enternal yakni pada hakekatnya islam adalah sebagai pemenuhan janji Tuhan bahwa
Dia akan memberikan petunjuk kepada manusia tentang bagaimana seharusnya
manusia ini menempuh hidup secara wajar sehingga sejalan dan serasi dengan alam
sekitarnya. Dan untuk memenuhi kebutuhan kehidupan manusia itu, Islam memiliki
tiga inti ajaran yakni Aqidah (kepercayaan), Syari’ah (kumpulan hukum-hukum
dan aturan-aturan serta
perundang-undangan-Nya), Akhlak (budi pekerti, tingkah laku, sifat dan sikap
hidup manusia). Hakekat islam selanjutnya yaitu sebagai sumber pengetahuan
sebagaimana begitu banyak ayat yang menjelaskan tentang ilmu pengetahuan, dan
hal itu tidak dapat di pisahkan dari Al-Qur’an itu sendiri sebagai wahyu yang
di jadikan sumber ilmu bagi umat manusia.
BAB
V : HAKIKAT MANUSIA
Berbagai
pemikiran tentang hakikat manusia sejak zaman dahulu hingga zaman modern
sekarang ini belum berakhir dan tidak akan pernah berakhir. Karena
jawaban-jawaban dari berbagai ahli piker maupun ahli filsafat tentang manusia
itu sendiri kurang memuaskan seperti apa,? Dari mana? Dan kemana manusia itu?
Pertanyaan- pertanyaan tersebut belum mendapatkan jawaban yang konkrit dan bias
di pertanggung jawabkan.
Pandangan
islam tentang hakikat manusia ialah manusia itu merupakan perkaitan antara
badan dan ruh, yang masing-masing merupakan subtansi yang berdiri sendiri, yang
tidak tergantung adanya oleh yang lain. Materi (badan) yang berasal dari bumi
dan ruh yang berasal dari Tuhan. Maka hakikat pada manusia adalah ruh, dan
badan hanya sebagai alat untuk menjalankannya.
Pada
dasarnya dalam diri manusia terdapat sifat dan unsur-unsur ketuhanan, sebagai
khalifah Allah, manusia juga merealisir fungsi ketuhanan, sehingga manusia
adalah berfungsi kreatif, mengembangkan diri, dan memelihara diri dari
kehancuran dan kebinasaan. Dengan demikian manusia itu berkembang dan mengarah
kepada kesempurnaan.
BAB
VI : MANUSIA DAN ALAM
Hubungan
manusia dan alam yaitu manusia tidak dapat terpisah dengan alam, karena manusia
hidup di dunia. Hal ini berarti manusia bukan seperti pribadi yang dari alam sekitarnya, melainkan
bersama-sama dengan alam sekitarnya. Alam semesta diciptakan oleh Tuhan adalah
untuk kepentingan manusia dan untuk di pelajari oleh manusia, agar manusia
dapat menjalankan fungsi, tugas dan kedudukannya sebagai manusia atau khalifah
dimuka bumi.
Kedudukan
manusia di muka bumi itu sendiri yaitu sebagai pemanfaat dan penjaga serta
pemelihara kelestarian alam, sebagai peneliti alam dan dirinya untuk mencari
Tuhan, Sebagai khalifah (Penguasa) di muka bumi, sebagai makhluk yang paling
tinggi derajatnya dan paling mulia, sebagai hamba Allah, sebagai makhluk yang
bertanggung jawab, dan sebagai makhluk yang dapat dididik dan mendidik.
BAB
VII : KONSEP ISLAM TENTANG KEHIDUPAN MANUSIA
Pendidikan
sebagai gejala dan kebutuhan manusia, karena itu pendidikan itu berusaha untuk
mengembangkan aspek-aspek kepribadian anak, baik jasmani maupun rohani, termasuk
di dalam aspek individualitas, sosialitas, moralitas maupun aspek religius.
Pandangan islam tentang pendidikan yaitu islam mewajibkan kepada umatnya untuk
melaksanakan pendidikan, baik itu duniawi (umum) maupun ukhrawi (agama), baik
pria maupun wanita sejak lahir hingga meninggal dunia. Selain itu disamping
untuk belajar, manusia juga
diperintahkan untuk mengajarkan ilmunya kepada manusia lainnya. Bahkan
banyak ayat-ayat Al-Qur’an maupun Hadits yang memerintahkan hal itu. Karena
islam sangat menghargai orang-orang yang berilmu pengetahuan dan mengangkat
martabat maupun derajat mereka ketempat yang terpuji.
BAB
VIII : FILSAFAT ISLAM DAN PENDIDIKAN
Islam
datang dengan menbawa Al-Qur’an sebagai sumber dan dasarnya. Al-Qur’an juga
disebut sebagai Al-Hakim dan itu berarti Al-Qur’an merupakan sumber dan
perwujudan Al-Hikmah atau filsafat dalam islam. System filsafat dalam islam
memiliki ciri-ciri khusus. Diantaranya yaitu Al-Qur’an digunakan sebagai sumber
filsafat dan pembimbing bagi kegiatan berfilsafat, dalam berfilsafat pun islam
mengandung aspek Ontologi, Epistimologi, dan Axiologi. Sedangkan perbedaan
filsafat islam dengan filsafat lainnya yaitu pada pandangannya yang “Sarwa
Islam”.
Pendidikan
adalah usaha sadar manusia (manusia dewasa) untuk memanusiakan manusia (manusia
yang belum dewasa) menjadi manusia (dewasa). Dalam pandangan filsafat islam,
sebagaimana ditegaskan dalam Al-Qur’an, bahwa pada hakikatnya manusia adalah
”khalifah Allah di alam semesta ini” khalifah berarti kuasa atau wakil.
Sedangkan filsafat pendidikan islam yaitu sebagai studi tentang pandangan
filosofis dari nsistem dan aliran filsafat dalam islam terhadap masalah-masalah
kependidikan dan bagaimana pengaruhnya terhadap pertumbuhan dan perkembangan
manusia muslim dan umat islam. Jadi berdasarkan pengertian filsafat pendidikan
islam itu sendiri filsafat pendidikan islam terbagi menjadi dua sifat yaitu
pendidikan yang bersifat tradisional dan juga kritis.
BAB
IX : METODE DAN PERANAN FILSAFAT PENDIDIKAN ISLAM
Filsafat
islam dalam memecahkan problema pendidikan islam dapat menggunakan berbagai
macam metode. Diantaranya yaitu metode spekkulatif dank ontremplatif (berpikir
secara mendalam atau biasa disebut tafakur), pendekatan Normatif (berdasarkan
aturan atau hukum-hukum), analisis konsep (dengan analisa bahasa), pendekatan
historis (berdasarkan sejarah atau peristiwa dimasa lalu),pendekatan ilmiah
(masalah aktual dan bisa dibuktikan), dan yang terakhir yaitu dalam system
filsafat islam itu sendiri. Jelaslah bahwa masalah pendidikan adalah masalah
manuisa, oleh karena itu pendekatan filsafat pendidikan islampun haruslah
pendekatan yang melibatkan seluruh aspek dan putensi manusiawi.
Peranan
filsafat pendidikan islam itu sendiri yaitu ia berperan dalam pengembangan ilmu
pengetahuan yang menjadi induknya dan mengembangkan filsafat islam juga
mengembangkan ilmu pendidikan. Secara praktis filsafat pendidikan islam banyak
berperan dalam memberikan alternatife-alternatif pemecahan berbagai problema
yang dihadapi oleh pendidikan islam dan memberikan pengarahan terhadap
perkembangan pendidikan islam. Dengan begitu peranan filsafat pendidikan islam
menuju kedua arah. Yaitu kearah pengembangan konsep-konsep filosofis dari pendidikan
islam yang secara otomatis akan menghasilkan teori-teori baru dalam ilmu
pendidikan islam, dan kedua yaitu ke arah perbaikan dan pembaharuan praktek dan
pelaksanaan pendidikan islam.
BAB
X : PERKEMBANGAN DAN PEMIKIRAN-PEMIKIRAN BARU DALAM PENDIDIKAN ISLAM
Perkembangan
filsafat pada pendidikan islam melahirkan berbgi pemahaman maupun pemikiran dan
aliran-aliran. Terutama dalam ilmu kalam, bahkan dalam perkembangan filsafat
pendidikan islam telah membawa perubahan baik dalam segi positif maupun
negatif. Dan melahirkan berbagai akibat kehidupan umat islam yang kontroversial
dan saling bertolak belakang. Di satu pihak di dunia bagian barat dengan
kehidupan material yang serba megah dan mewah yang di latar belakangi pemikiran
filsafat dari Ibnu Rusyd, sedangkan di lain pihak di dunia bagian timur dengan
kehidupan bathin yang nampak terasing dan terisingkir dari kehidupan ramai dan
itu dilatar belakangi pemikiran filsafat Imam Ghazali. Dan itu menurut
pandangan-pandangan filosofis dan dunia islam.
Dengan
adanya filsafat telah melahirkan pemikiran-pemikiran dalam dunia pendidikan
islam. Dan karena pemikiran-pemikiran tersebut terjadilah kehidupan yang kurang
seimbang dikalangan umat islam. Dan selain itu dampak dari perkembangan
filsafat itu sendiri telah melahirkan berbagai macam bidang ilmu, juga bermunculan gerakan-gerakan pembaharuan dalam
dunia islam.
BAB
XA : ARTI, DASAR, DAN TUJUAN PENDIDIKAN ISLAM
Konsep
filosofis tentang arti pendidikan islam meliputi : pendidikan yaitu suatu
aktivitas untuk mengembangkan seluruh aspek kehidupan manusia, sarana untuk
mengembangkan sekaligus membina kepribadiannya sesuai nilai-nilai dan
hukum-hukum didalam masyarakat dan kebudayaan, sebagai timbal balik dari tiap
pribadi manusia dalam penyesuaian dirinya dengan alam, dengan teman, dengan
alam semesta yang berjalan seumur hidup. Sedangkan klasifikasi islam itu
sendiri mengartikan pendidikan islam yaitu pembentukan kepribadian yang dapat
menghasilkan kepribadian muslim, dan kemajuan masyarakat dan budaya yang tidak
menyimpang dari ajaran islam. Selain itu John Dewey mengemukakan bahwa
pendidikan bahwa pendidikan sebaga salah stu kebutuhan hidup (a necessity of
life), salah satu fungsi social (a social function), sebagai bimbingan (as
direction), sebagai sarana pertumbuhan (as growth) yang mempersiapkan dan
membukakan serta membentuk disiplin hidup.
Analisis
tentang dasar-dasar pendidikan yaitu bersumber pada Al-Qur’an dan Al-Hadits.
Sedangkan jika di Indonesia adalah Pancasila. Sebagai umat islam dasar agama
adalah pondasi utama dalam keharusan berlangsungnya pendidikan. Dan berdasarkan
urutan prioritas pendidikan islam dalam upaya pembentukan kepribadian muslim
sebagaimana di ilustrasikan dalam Al-Qur’an surat Luqman ayat 3 dan beberapa
ayat yang lain maka dapat disimpulakan menjadi tiga pokok yaitu : pendidikan
keimanan kepada Allah SWT yang kedua pendidikan Akhlakul karimah dan yang
terakhir pendidikan ibadah.
Sedangkan
analisa tujuan pendidikan islam itu
sendiri adalah dunia cita yakni suasana ideal yang di ingin diwujudkan. Dan
tujuan pendidikan yang diinginkan itu sendiri ada tiga bidang asasi yaitu :
tujuan individual (diri sendiri), tujuan sosial (bermasyarakat), tujuan-tujuan
professional (pendidikan dan pengajaran). Dan untuk melaksanakan tujuan
tersebut dapat menggunakan pendekatan terpadu, yaitu meliputi pendekatan
melalui analisis historis lembaga-lembaga sosial, pendekatan melalui analisa
ilmiah tentang realita kehidupan yang aktual, dan pendekatan melalui normative
philosophy yaitu nilai-nilai filsafat yang normative. Dan itu bertujuan untuk
memperoleh penetapan tujuan yang lebih realistis.
Tujuan
yang asasi bagi pendidikan islam yang di uraikan dalam “At Tarbiyah Al Islamiyah Wa Falsafatuha” menurut Prof.Moh. Athiyah Al
Abrosyi ada lima tujuan. Yaitu : untuk membantu pembentukan akhlak yang
mulia, persiapan untuk kehidupan dunia dan akhirat, menumbuhkan ruh ilmiah
(scientific spirit) pada pelajaran dan memuaskan keinginan hati, menyiapkan
pelajar dari segi professional, tekhnis dan perusahaan dan terakhir persiapan
untuk mencapai rizki dan pemeliharaan dalam segi-segi manfaat.
BAB
XII : KONSEP ISLAM MENGENAI BEBERAPA FAKTOR PENDIDIKAN
Menurut
konsepsi islam ada beberapa faktor pendidikan yaitu: ia harus memiliki syarat
fisik, syarat psikis, karena beratnya tugas seorang pendidik menurut agama
islam maka diperlukannya kedua hal tersebut, dan persyaratan itu bertujuan agar
pendidik tidak merugikan pertumbuhan jiwa anak didik dan merugikan agama.
Sedangkan konsepsi islam tentang anak yaitu bahwa anak sejak terlahir sudah membawa fitrah beragama dan kemudian
semua bergantung kepada pendidiknya dalam menentukan dan mengembangkan fitrah
itu sendiri. Menurut ajaran islam saat anak dilahirkan dalam keadaan lemah dan
suci (fitrah), dan alam sekitarnyalah yang memberikan corak warna terhadap
nilai hidup atas pendidikan agama anak didik. Karena itulah pentingnya peranan
orang tua (keluarga, sekolah, masyarakat) menanamkan pandangan hidup keagamaan
terhadap anak didiknya.
Selain
itu konsep islam tentang lingkungan juga berpengaruh besar terhadap penentuan
corak pendidikan islam, yang tidak sedikit pengaruhnya terhadap anak didik. Dan
kiranya perlu diperhatikan beberapa faktor yang ada dalam dilingkungan
pendidikan itu sendiri. Diantaranya yaitu: perbedaan lingkungan keagamaan juga
latar belakang pengenalan anak tentang keagamaan.
Dan
yang terakhir adalah konsep islam tentang lembaga pendidikan mencakup tiga
golongan yaitu : lembaga pendidikan keluarga, lembaga pendidikan sekolah dan
yang terakhir lembaga pendidikan masyarakat. Sedangkan konsep alat pendidikan
yang digunakan yaitu segala sesuatu hal yang bias menunjang kelancaran proses
pelaksanaan pendidikan. Dan alat-alat pendidikan itu meliputi: segala tingkah
laku perbuatan (teladan), anjuran (perintah), larangan (usaha tegas menghentikan
perbuatan-perbuatan yang ternyata salah dan merugikan yang bersangkutan), hukum
(hukuman agar yang bersngkutan tidak mengulang perbuatan yang terlarang itu).
BAB
XIII : KONSEP ISLAM TENTANG PRIBADI MUSLIM
Kepribadian
muslim merupakan tujuan akhir dari setiap usaha pendidikan islam. Sedangkan
kepribadian itu sendiri berarti hasil dari suatu proses kehidupan yang dijalani
seseorang. Analisa secara filosofis mengatakan bahwa pada hakikat, kodrat, dan
martabat manusia adalah kesatuan integral segi-segi atau potensi-potensi
essensial yang meliputi empat konsep tentang sifat-sifat manusia. Diantaranya
yaitu : pertama: konsep tentang
individualitas manusia: manusia merupakan keseluruhan yang tidak dapat
dibagi-bagi atau dipisakan antara jiwa dan raga. Konsep ini sangat jelas bahwa
manusia secara individu harus bertanggung jawab atas apa yang telah ia perbuat.
Kedua: konsep tentang sosialitas manusia
(social being) yaitu kehidupan sosialnya merupakan penyempurnaan
kepribadiannya secara individual. Dan konsep ini menghendaki agar setiap orang
islam selain memelihara hubungan dengan Tuhan juga harus memelihara hubungannya
dengan sesama manusia, dan orang islam tidak boleh hidup menyendiri tanpa
bergaul dengan orang atau manusia lainnya.
Ketiga:
konsep moralitas manusia (moral being). Moral tidak dapat dipisahkan dari
kehidupan manusia. Dalam islam bidang moral justru menempati posisi yang paling
penting setelah beriman kepada Allah SWT. Yang
keempat: konsep manusia sebagai makhluk Tuhan. Secara sadar atau tidak
manusia harus mengakui bahwa dia adalah salah satu makhluk ciptaan Tuhan yang
hidup di dunia ini. Dan analisis filsafat mengatakan bahwa Tuhan YME itu adalah
Causa Prima, artinya sebab pertama
yang mengakibatkan lahirnya seluruh kenyataan yang ada. Selain itu Tuhan YME
juga sekaligus merupakan Causa Finalis
dari perkembangan hidup manusia atau juga diartikan arah akhir atau tujuan
akhir dari perkembangan seluruh jenis kenyataan yang ada.
Konsep
tentang pribadi muslim berdasarkan ajaran Al-Qur’an ada tiga aspek pokok yang
member corak khusus bagi orang muslim. Yaitu: pertama: adanya wahyu Tuhan yang
memberikan kewajiban-kewajiban pokok yang harus dilaksanakan oleh seorang
muslim. Kedua: praktek ibadah yang harus dilaksanakan dengan aturan-aturan yang
pasti dan teliti. Ketiga: konsepsi Al-Qur’an tentang alam yang menggambarkan
penciptaan manusia secara harmonis dan seimbang dibawah perlindungan Tuhan.
Ajaran ini juga akan mengukuhkan konstruksi kelompok.
Adapun
prinsip-prinsip ajaran moral yang harus menjadi hiasan tiap-tiap pribadi muslim
menurut Al-Qur’an yaitu sebagai berikut:
Seorang
muslim tidak boleh memandang hina kepada orang lain. Tidak boleh buruk sangkan
dan tidak boleh mengintai kesalahan orang lain, islam menyuruh kepada
persatuan, membayarkan amanat dan menepati janji, melarang hasad (iri hati),
melarang takabur dan sombong,melarang mencari aib orang lain, berlaku adil dan
membenci penganiayaan, membenci penyuapan, membenci kesaksian palsu,
memperteguh tali silaturahmi, menyeru kepada ilmu pengetahuan, berbuat baik
dengan tetangga, tolong menolong dan mementingkan orang lain. Demikianlah
sifat-sifat yang harus dimiliki oleh tiap-tiap pribadi muslim.
Wassalamu’allaikum. Wr. Wb
Tidak ada komentar:
Posting Komentar