MAKALAH
KESULITAN
BELAJAR DI TINJAU DARI PSIKOLOGI BELAJAR PAI
Disusun Guna Memenuhi Tugas Individu Mata Kuliah :
PSIKOLOGI BELAJAR PENDIDIKAN AGAMA ISLAM (PAI)
Semester: VI (Enam) Reguler / PAI
Dosen Mata Kuliah: Bapak Drs. H. Pidin Hapidin, M.Pd.I

Disusun
Oleh:
EIS NS
NPM.1112.01.1128
JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
PROGRAM
STUDI STRATA - 1
STAI MIFTAHUL HUDA
SUBANG
2014
KATA PENGANTAR
Assalamu’Allaikum. Wr. Wb.
Puji
syukur penulis ucapkan kehadirat Allah SWT. Karena dengan rahmat dan karunia-Nya
penulis masih diberi kesempatan untuk menyelesaikan makalah ini. Dimana makalah
ini merupakan salah satu tugas kelompok Mata Kuliah Psikologi Belajar
Pendidikan Agama Islam (PAI) yang berjudul “KESULITAN BELAJAR DI TINJAU DARI
PSIKOLOGI BELAJAR”.
Tidak
lupa penulis ucapkan terima kasih kepada dosen mata kuliah Bapak Drs. H. Pidin
Hapidin, M.Pd.I. dan juga keluarga tercinta yang telah memberikan dukungan
dalam menyelesaikan makalah ini. Penulis menyadari bahwa dalam penulisan
makalah ini masih banyak kekurangan, oleh sebab itu penulis sangat mengharapkan
kritik dan saran dari rekan semua yang nantinya penulis jadikan bahan dalam
penyempurnaan makalah ini.
Dan
semoga dengan selesainya makalah ini dapat bermanfaat bagi masyarakat umum dan
khususnya bagi penulis sendiri. Aamiin.
Wassalamu’Allaikum.
Wr. Wb.
Penulis
DAFTAR ISI
KATA
PENGANTAR …………..….…………................................................ i
DAFTAR
ISI …………….….…..………………...…..……………..….
ii
BAB
I PENDAHULUAN .……….……………………......……….…
1
BAB II PEMBAHASAN: KESULITAN BELAJAR DI TINJAU DARI PSIKOLOGI
BELAJAR PAI
…..………………………………...…………..……
2
A. DEFINISI KESULITAN BELAJAR .…………..……………… 2
B. FAKTOR – FAKTOR PENYEBAB KESULITAN
BELAJAR ……... 3
C. USAHA MENGATASI KESULITAN BELAJAR …...…………..…
5
D. PENANGANAN KESULITAN BELAJAR …………...………… 7
BAB
III PENUTUP:
KESIMPULAN …...…………..…..……… 10
DAFTAR
PUSTAKA ….……………….………..……..…...…..
11
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR
BELAKANG
Sebagai
seorang guru yang tugasnya mengajar di sekolah, tentunya tidak jarang harus
menangani anak-anak yang mengalami kesulitan dalam belajar. Hal ini terkadang
membuat guru menjadi frustasi memikirkan bagaimana menghadapi anak-anak seperti
ini. Demikian juga para orang tua yang memiliki anak yang mempunyai kesulitan
dalam belajar.
Akan
tetapi yang lebih menyedihkan adalah perlakuan yang diterima anak yang
mengalami kesulitan belajar dari orang tua dan guru yang tidak mengetahui
masalah yang sebenarnya, sehingga mereka memberikan cap kepada anak mereka
sebagai anak yang bodoh atau gagal.
Dalam
makalah ini, akan mendapati apa sebenarnya yang dimaksud masalah kesulitan
belajar, faktor apa yang menjadi penyebabnya, serta metode yang dapat digunakan
untuk membantu anak yang mengalami kesulitan dalam belajar.
B. RUMUSAN
MASALAH
Berdasarkan
latar belakangnya, maka yang menjadi rumusan masalah dalam makalah ini adalah:
1. Apa Definisi
kesulitan belajar?
2. Apa
saja Faktor-faktor penyebab kesulitan belajar?
3. Bagaimana
Usaha mengatasi kesulitan belajar?
4. Bagaimana
Penanganan kesulitan belajar?
C. TUJUAN
PENULISAN
Berdasarkan
latar belakang dan rumusan masalahnya, maka yang menjadi tujuan penulisan
makalah ini adalah:
1. Untuk
mengetahui definisi kesulitan belajar.
2. Untuk
mengetahui faktor - faktor penyebab kesulitan belajar.
3. Untuk
mengetahui usaha mengatasi kesulitan belajar.
4. Untuk
mengetahui penanganan kesulitan belajar.
BAB II
PEMBAHASAN
KESULITAN
BELAJAR DI TINJAU DARI PSIKOLOGI BELAJAR PAI
A. DEFINISI
KESULITAN BELAJAR
Aktivitas
belajar bagi setiap individu, tidak selamanya dapat berlangsung secara wajar. terkadang
lancar, terkadang pula tidak. Terkadang dapat cepat menangkap apa yang
dipelajari, kadang-kadang terasa sangat sulit. Dalam semangat terkadang
semangatnya tinggi, tetapi terkadang juga sulit untuk mengadakan konsentrasi.
Demikian keadaan yang sering kita jumpai pada setiap anak didik dalam kehidupan
sehari-hari dalam kaitannya dengan aktivitas belajar.
Setiap
individu memang tidak ada yang sama. Perbedaan individual inilah yang
menyebabkan perbedaan tingkah laku belajar di kalangan anak didik. “Dalam
keadaan di mana anak didik atau siswa tidak dapat belajar sebagaimana mestinya,
itulah yang disebut dengan kesulitan belajar”.
Kesulitan
belajar merupakan kekurangan yang tidak nampak secara lahiriah. Ketidakmampuan
dalam belajar tidak dapat dikenali dalam wujud fisik yang berbeda dengan orang
yang tidak mengalami masalah kesulitan belajar. Kesulitan belajar ini tidak
selalu disebabkan karena faktor inteligensi yang rendah (kelainan mental), akan
tetapi dapat juga disebabkan oleh faktor-faktor non-inteligensi. Dengan begitu,
IQ yang tinggi belum tentu menjamin keberhasilan belajar. Berdasarkan hal
tersebut dapat dikatakan bahwa kesulitan belajar adalah suatu kondisi proses
belajar yang ditandai dengan hambatan-hambatan tertentu dalam mencapai hasil
belajar.
Macam-macam
kesulitan belajar ini dapat dikelompokkan menjadi empat macam, yaitu sebagai
berikut:
1. Dilihat
dari jenis kesulitan belajar, ada yang berat ada yang sedang.
2. Dilihat
dari bidang studi yang dipelajari, ada yang sebagian bidang studi ada yang
keseluruhan bidang studi.
3. Dilihat
dari sifat kesulitannya, ada yang sifatnya permanen (menetap) dan ada yang
sifatnya hanya sementara.
4. Dilihat
dari segi faktor penyebabnya, ada yang karena faktor inteligensi dan ada yang karena
faktor bukan inteligensi.
B. FAKTOR
– FAKTOR PENYEBAB KESULITAN BELAJAR
Problem
kesulitan belajar, tentunya disebabkan oleh berbagai faktor. Untuk memberikan
bantuan dalam mengatasi kesulitan belajar yang dialami oleh anak didik, tentunya
kita harus mengetahui lebih dulu apa saja faktor-faktor yang menjadi penyebab
munculnya masalah kesulitan belajar. Faktor-faktor penyebab kesulitan belajar
dapat digolongkan kedalam dua golongan, yaitu:
1. Faktor
Intern (faktor dari dalam anak itu sendiri) yang meliputi:
a. Faktor
Fisiologis
Faktor
fisiologi adalah faktor fisik dari anak itu sendiri. Seorang anak yang sedang
sakit, tentunya akan mengalami kelemahan secara fisik, karena saraf sensoris
dan motorisnya lemah sehingga proses menerima pelajaran, memahami pelajaran
menjadi tidak sempurna. Kemudian karena kurang sehat, anak yang kurang sehat
dapat mengalami kesulitan belajar sebab ia mudah capek, mengantuk, pusing, dan
konsentrasinya hilang. Sehingga penerimaan respon tidak maksimal.
Selain
itu, faktor fisiologis yang perlu kita perhatikan karena dapat menjadi penyebab
munculnya masalah kesulitan belajar adalah cacat tubuh, yang dapat kita bagi
lagi menjadi cacat tubuh yang ringan seperti kurang pendengaran, kurang
penglihatan, gangguan gerak, serta cacat tubuh yang tetap (serius) seperti
buta, tuli, bisu, dan lain sebagainya.
b. Faktor
Psikologis
Faktor
psikologis adalah berbagai hal yang berkenaan dengan perilaku yang ada dan
dibutuhkan dalam belajar. Sebagaimana kita ketahui bahwa belajar tentunya
memerlukan sebuah kesiapan, ketenangan, rasa aman. Selain itu yang juga
termasuk dalam faktor psikologis ini adalah
1) Inteligensi
yang dimiliki oleh anak (IQ)
Anak
yang memiliki IQ cerdas (110-140), atau genius (lebih dari 140) memiliki
potensi untuk memahami pelajaran dengan cepat. Sedangkan anak-anak yang
tergolong sedang (90-110) tentunya tidak terlalu mengalami masalah walaupun
juga pencapaiannya tidak terlalu tinggi. Sedangkan anak yang memiliki IQ di
bawah 90 atau bahkan di bawah 60 tentunya memiliki potensi mengalami kesulitan
dalam masalah belajar. Untuk itu maka orang tua serta guru perlu mengetahui
tingkat IQ yang dimiliki anak atau anak didiknya.
2) Bakat
Selain
IQ, faktor psikologis yang dapat menjadi penyebab munculnya masalah kesulitan
belajar adalah bakat. Bakat adalah potensi atau kecakapan dasar yang dibawa
sejak lahir, setiap individu mempunyai bakat yang berbeda-beda.
3) Minat
Tidak
adanya minat seorang anak terhadap suatu pelajaran akan menimbulkan kesulitan
belajar. Mengapa? Karena dengan tidak adanya minat, pelajaran pun tidak pernah
terjadi prosesnya dalam otak. Ada tidaknya minat, dapat kita ketahui dari cara
anak mengikuti pelajaran.
4) Motivasi
Motivasi
sebagai factor Inner (batin) berfungsi menimbulkan, mengarahkan perbuatan
belajar. Motivasi dapat menentukan baik tidaknya dalam mencapai tujuan.
Sehingga semakin besar motivasinya akan semakin besar kesuksesan belajarnya.
5) Kesehatan
Mental
Selain
itu faktor kesehatan mental juga sangat mempengaruhi. Hubungan kesehatan mental
dengan belajar adalah timbal balik. Kesehatan mental dan ketenangan akan menimbulkan
hasil belajar yang baik.
6) Tipe
Belajar
Tipe anak dalam belajar merupakan factor yang
sangat mempengaruhi. Ada tipe visual, motoris dan campuran. Seorang yang
bertipe visual akan cepat mempelajari bahan-bahan yang disajikan secara
tertulis, bagan, grafik, gambar, dan sebagainya. Anak yang bertipe auditif
mudah mempelajari bahan yang disajikan dalam bentuk-bentuk suara (ceramah).
Individu yang bertipe motorik, mudah mempelajari bahan yang berupa
tulisan-tulisan, gerakan-gerakan, dan sulit mempelajari bahan yang berupa suara
dan penglihatan.
Demikianlah faktor - faktor yang mempengaruhi
kesulitan belajar anak yang sering banyak dialami oleh anak-anak dalam belajar.
2. Faktor
Ekstern (faktor dari luar anak) meliputi:
a. Faktor
- Faktor Sosial
Yaitu
faktor-faktor seperti cara mendidik anak oleh orang tua mereka di rumah.
Anak-anak yang tidak mendapatkan perhatian yang cukup tentunya akan berbeda
dengan anak-anak yang mendapatkan perhatian, atau anak yang selalu diberikan
perhatian. Selain itu juga bagaimana hubungan orang tua dengan anak, apakah
harmonis, atau jarang bretemu, atau bahkan terpisah.
Selain
itu ada media massa, lingkungan tetangga, teman bergaul, aktivitas dalam
masyarakat. Hal ini tentunya juga memberikan pengaruh pada kebiasaan belajar
anak.
b. Faktor
– Faktor Non – Sosial
Faktor
- faktor non-sosial yang dapat menjadi penyebab munculnya masalah kesulitan
belajar adalah faktor guru di sekolah, kemudian alat-alat pembelajaran, kondisi
tempat belajar, serta kurikulum. Yang demikian cukup mempengaruhi kesulitan
belajar anak.
C. USAHA
MENANGANI KESULITAN BELAJAR
Dalam
mengatasi kesulitan belajar, tidak dapat dipisahkan dari faktor-faktor
kesulitan belajar sebagaimana yang telah diuraikan. Karena itu, mencari
sumber-sumber penyebab adalah menjadi mutlak adanya dalam rangka mengatasi
kesulitan belajar. Secara garis besar, langkah-langkah yang perlu ditempuh
dalam rangka mengatasi kesulitan belajar, dapat dilakukan melalui enam tahap
yaitu:
1. Pengumpulan
Data
Untuk
menemukan sumber penyebab kesulitan belajar, diperlukan banyak informasi. Untuk
memperoleh informasi tersebut, maka perlu diadakan suatu pengamatan langsung
yang disebut dengan pengumpulan data. Menurut Sam Isbani dan R. Isbani, dalam
pengumpulan data dapat menggunakan berbagai metode, di antaranya adalah
Observasi, Kunjungan Rumah, Case Study, Case History, Daftar Pribadi, Meneliti
Pekerjaan Anak, Tugas Kelompok, dan Melaksanakan Tes (baik tes IQ maupun Tes
Prestasi/Achievement Test).
Dalam
pelaksanaannya, metode-metode tersebut tidak harus semuanya digunakan secara bersama-sama
akan tetapi tergantung pada masalahnya, kompleks atau tidak. Semakin rumit
masalahnya maka kemungkinan akan semakin banyak metode yang digunakan. Dan
sebaliknya, data yang terkumpul dari berbagai metode yang kita gunakan, akan
sangat bermanfaat dalam rangka kegiatan pada langkah selanjutnya.
2. Pengolahan
Data
Data
yang telah terkumpul, tidak akan berarti apa-apa jika tidak dilakukan pemilahan
secara cermat. Dalam pengolahan data, langkah yang dapat ditempuh antara lain
adalah Mengidentifikasi kasus, Membandingkan antar kasus, Membandingkan dengan
hasil tes, dan Menarik kesimpulan.
3. Diagnosa
Diagnosa
adalah keputusan (penentuan) mengenai hasil dari pengolahan data. Diagnosa ini
dapat berupa hal-hal sebagai berikut:
1) Keputusan
mengenai jenis kesulitan belajar anak (berat dan ringannya).
2) Keputusan
mengenai faktor-faktor yang ikut menjadi sumber penyebab kesulitan belajar.
3) Keputusan
mengenai faktor utama penyebab kesulitan belajar dan sebagainya.
Dalam rangka diagnosa ini biasanya diperlukan
berbagai bantuan tenaga ahli, misalnya:
1) Dokter,
untuk mengetahui kesehatan anak.
2) Psikolog,
untuk mengetahui tingkat IQ anak.
3) Psikiater,
untuk mengetahui kejiwaan anak.
4) Social
worker, untuk mengetahui kelainan sosial yang mungkin dialami anak.
5) Ortopedagogik,
untuk mengetahui kelainan-kelainan yang ada pada anak.
6) Guru
kelas, untuk mengetahui perkembangan belajar anak selama di sekolah.
7) Orangtua
anak, untuk mengetahui kebiasaan anak di rumah, dll.
4. Prognosa
Prognosa
artinya “Ramalan”. Dalam “Prognosa” ini antara lain akan ditetapkan mengenai
bentuk “treatment” (perlakuan) sebagai follow up dari diagnosa. Dalam hal ini
dapat berupa Bentuk treatment yang harus diberikan, Bahan atau materi yang
diperlukan, Metode yang akan dipergunakan, Alat-alat bantu belajar mengajar
yang diperlukan, Waktu (kapan kegiatan itu dilaksanakan). Pendek kata, Prognosa
merupakan aktivitas penyusunan rencana atau program yang diharapkan dapat
membantu mengatasi masalah kesulitan belajar anak.
5. Treatment
(Perlakuan)
Perlakuan
di sini maksudnya adalah pemberian bantuan kepada anak yang bersangkutan (yang
mengalami kesulitan belajar) sesuai dengan program yang telah disusun pada
tahap prognosa tersebut. Bentuk treatment yang mungkin dapat diberikan,
seperti:
1) Melalui
bimbingan belajar kelompok.
2) Melalui
bimbingan belajar individual.
3) Melalui
pengajaran remedial dalam beberapa bidang studi tertentu.
4) Pemberian
bimbingan pribadi untuk mengatasi masalah-masalah psikologis.
5) Melalui
bimbingan orang tua, dan pengatasan kasus sampingan yang mungkin ada.
6. Evaluasi
Evaluasi
di sini dimaksudkan untuk mengetahui, apakah treatment yang telah diberikan di
atas berhasil dengan baik, artinya ada kemajuan, atau bahkan gagal sama sekali.
Kalau ternyata treatmen yang diterapkan tersebut tidak berhasil maka perlu ada
pengecekan kembali ke belakang, faktor-faktor apa yang mungkin menjadi penyebab
kegagalan treatmen tersebut.
Alat
yang digunakan untuk evaluasi ini dapat berupa Tes Prestasi belajar
(Achievement Test). Untuk mengadakan pengecekan kembali atas hasil treatment
yang kurang berhasil, maka secara teorotis langkah-langkah yang perlu ditempuh
adalah Re Ceking data (baik pengumpulan maupun pengolahan data). Re Diagnosa,
Re Prognosa, Re Treatment, dan Re Evaluasi.
D. PENANGANAN
KESULITAN BELAJAR
1. Keterlambatan
Membaca (Disleksia)
Anak yang memiliki keterlambatan kemampuan
membaca, mengalami kesulitan dalam mengartikan atau mengenali struktur
kata-kata atau memahaminya. Cepat melupakan apa yang telah dibacanya. Beberapa
kesulitan bagi anak-anak penderita disleksia adalah sebagai berikut:
1) Membaca
dengan sangat lambat dan dengan enggan.
2) Menyusuri
teks pada halaman buku dengan menggunakan jari telunjuk.
3) Mengabaikan
suku kata, kata-kata, frase, atau bahkan baris teks.
4) Menambahkan
kata-kata atau frase yang tidak ada dalam teks.
5) Membalik
urutan huruf atau suku kata dalam sebuah kata.
6) Salah
dalam melafalkan kata, termasuk kata-kata yang sudah dikenal.
7) Mengganti
satu kata dengan kata lain, meskipun kata yang digantikan tidak mempunyai arti
dalam konteksnya.
8) Menyusun
kata-kata yang tidak mempunyai arti.
9) Mengabaikan
tanda baca.
Cara yang paling sederhana, paling efektif
untuk membantu anak-anak penderita disleksia belajar dengan mengajar mereka
membaca dengan metode phonic. Idealnya anak-anak akan mempelajari phonic di
sekolah bersama guru, dan juga meluangkan waktu untuk berlatih phonic di rumah
bersama orang tua mereka.
Metode phonic ini telah terbukti berpengaruh
terhadap peningkatan kemampuan anak dalam membaca (Gittelment & Feingold,
1983). Metode phonic ini merupakan metode yang digunakan untuk mengajarkan anak
yang mengalami problem disleksia agar dapat membaca melalui bunyi yang
dihasilkan oleh mulut. Metode ini dapat sudah dikemas dalam bentuk yang
beraneka ragam, baik buku, maupun software.
2. Problem
Kesulitan Menulis (Dysgraphia)
Disgraphya ini berbeda dengan tulisan tangan
yang jelek. Tulisan tangan yang jelek biasanya tetap dapat terbaca oleh
penulisnya, dan juga dilakukan dalam waktu yang relatif sama dengan yang tulisannya
bagus. Akan tetapi untuk dysgraphia, anak membutuhkan waktu yang lebih lama
untuk menulis.
Untuk mengatasi problem dysgraphia ini,
sangatlah baik apabila kita belajar dari sebuah kasus anak yang mengalami
dysgraphia. Sebagian Ahli merasa bahwa pendekatan yang terbaik untuk dysgraphia
adalah dengan jalan mengambil jalan pintas atas problem tersebut, yaitu dengan
menggunakan teknologi untuk memberikan kesempatan pada anak mengerjakan
pekerjaan sekolah tanpa harus bersusah payah menulis dengan tangannya.
Ada dua bagian dalam pendekatan ini. Anak-anak
menulis karena dua alasan: Pertama
untuk menangkap informasi yang mereka butuhkan untuk belajar (dengan menulis
catatan). Kedua untuk menunjukkan
pengetahuan mereka tentang suatu mata pelajaran (tes-tes menulis).
3. Problem
Kesulitan Menghitung (Dyscalculia)
Istilah ‘dyscalculia’, biasanya mengacu pada
pada suatu problem khusus dalam menghitung, atau melakukan operasi aritmatika,
yaitu penjumlahan, pengurangan, perkalian, dan pembagian. Anak yang mengalami
problem dyscalculia merupakan anak yang memiliki masalah pada kemampuan menghitung.
Anak tersebut tentunya belum tentu anak yang bodoh dalam hal yang lain, hanya
saja mereka mengalami masalah dengan kemampuan menghitungnya.
Seperti halnya problem kesulitan menulis dan
membaca, ada dua pendekatan yang mungkin dapat mengatasi problem kesulitan
menghitung.
1) Pendekatan
pertama, yaitu penanganan matematika yang intensif, dapat kita lakukan dengan
teknik “individualisasi yang dibantu tim”. Pendekatan ini menggunakan
pengajaran secara privat dengan teman sebaya (peer tutoring). Pendekatan ini
mendasari tekniknya pada pemahaman bahwa kecepatan belajar seorang anak
berbeda-beda, sehingga ada anak yang cepat menangkap, dan ada juga yang lama.
Teknik ini mendorong anak yang cepat menangkap materi pelajaran agar
mengajarkannya pada temannya yang lain yang mengalami problem dyscalculia
tersebut.
2) Pendekatan
kedua, yaitu jalan pintas, dengan cara diberikan kalkulator untuk menghitung,
hal ini sederhana karena anak dengan problem dyscalculia tidka memiliki masalah
dengan kaitan antara angka, akan tetapi lebih kepada menghitung angka-angka
tersebut.
BAB III
PENUTUP
KESEMPULAN
Pada dasarnya, semua
anak memiliki kemampuan, walaupun mungkin saja kemampuan yang dimiliki berbeda
satu dengan yang lainnya. pada tingkat pendidikan dasar berbagai kemampuan
tersebut masih memiliki relasi yang kuat, membaca, menulis, serta berhitung.
Masalah yang mungkin
ada pada pada salah satu kemampuan tersebut dapat menggangu kemampuan yang
lain. Dengan demikian apa yang kita sering lakukan baik sebagai seorang orang
tua, ataupun seorang guru dengan mengatakan seorang anak yang mendapatkan nilai
yang rendah merupakan anak yang bodoh dan gagal perlu menjadi perhatian kita.
Karena sebagaimana kita ketahui bahwa mungkin saja anak hanya mengalami
gangguan pada salah satu kemampuan tadi, dan mereka tidak tahu bagaimana
mengatasi masalah tersebut.
Untuk itu, yang
terpenting bagi kita adalah dapat menelaah dengan baik perkembangan anak kita.
Diagnosis terhadap permasalahan sesungguhnya yang dialami anak mutlak harus
dilakukan. Dengan demikian kita akan mengetahui kesulitan belajar apa yang
dialami anak, sehingga kita dapat menentukan alternatif pilihan bantuan
bagaimana mengatasi kesulitan tersebut.
DAFTAR
PUSTAKA
Ahmadi,
Abu & Widodo, Supriyono, (2004). Psikologi
Belajar. Jakarta: Rineka Cipta.
Wood,
Derek et al. Penerjemah Taniputra, ((2005). Kiat
Mengatasi Gangguan Belajar (Terjemahan).
Yogyakarta: Kata Hati.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar