Nama : Eis Komala Ns
NIM/Jurusan :
1112-01-----/ PAI-Tarbiyah
Semester/Kelas : Tiga/ Reguler
Mata Kuliah :
Pysicology Pendidikan
Judul Review :
METODE PENANAMAN MORAL UNTUK ANAK USIA DINI
A.
Latar belakang
Anak
merupakan investasi yang sangat penting bagi penyiapan sumber daya manusia
(SDM) di masa depan. Dan dalam rangka menyiapkan SDM yang berkualitas tentunya
pendidikan merupakan salah satu hal yang sangat penting untuk di berikan sejak
usia dini. Usia dini merupakan masa keemasan (golden age) yang hanya terjadi satu kali dalam perkembangan
kehidupan manusia.
Masa
ini adalah masa yang kritis dalam perkembangan anak, khususnya dalam
perkembangan moral anak. Karena sangat pentingnya, sehingga pada anak usia dini
harus mendapatkan perhatian yang sangat serius dalam penanaman nilai moral.
Sebab pendidikan nilai dan moral yang diterapkan sejak usia dini, diharapkan
pada tahap selanjutnya anak akan mampu membedakan baik buruk, benar salah,
sehingga ia dapat menerapkan dalam kehidupan sehari-hari. Karena ini akan
berpengaruh mudah tidaknya anak diterima oleh masyarakat sekitarnya dalam
bersosialisasi.
Pendidikan
nilai dan moral sejak usia dini merupakan tanggung jawab bersama semua pihak. Salah
satunya lembaga pendidikan yang dapat melakukan hal itu adalah Taman
Kanak-kanak (TK) dan PAUD dan itu merupakan salah satu lembaga yang bersifat
formal.
B.
Pembahasan
Anak
TK atau anak usia dini adalah anak yang sedang dalam tahap perkembangan pra-operasional
konkrit, sedangkan nilai-nilai moral merupakan konsep yang abstrak. Nilai dan
moral merupakan dua kata yang seringkali digunakan secara bersamaan. Dalam
Kamus Besar Bahasa Indonesia karangan W.J.S Poerwadarmitnta (2007: 801)
dinyatakan bahwa nilai adalah harga, hal-hal yang penting atau berguna bagi
kemanusiaan. Sedangkan pengertian moral menurut K. prent (Soenarjati, 1989: 25)
berasal dari bahasa latin mores, dari
suku kata mos yang artinya adat
istiadat, kelakuan, watak, tabiat, akhlak. Dari pengertian tersebut moral
berarti berkenaan dengan kesusilaan dalam tingkah laku.
Pendidikan
untuk anak usia dini (0-8 tahun) merupakan pendidikan yang memiliki
karakteristik berbeda dengan anak usia lain. Sehingga pendidikannya pun perlu
dipandang sebagai sesuatu yang dikhususkan. Bahkan ada yang berpendapat usia
dini merupakan usia emas (golden age) yang hanya terjadi sekali selama
kehidupan seorang manusia. Mengingat pentingnya pendidikan untuk usia dini,
maka di Negara-negara maju pendidikan usia dini sangat mendapatkan perhatian
yang serius dari pemerintah, berbeda dengan di Indonesia yang belum tergarap
dengan baik.
Taman
kanak-kanak adalah salah satu bentuk satuan pendidikan anak usia dini pada
jalur formal yang menyelenggarakan program pendidikan bagi anak usia 4-6 tahun.
Dalam Standar Kompetensi PAUD dinyatakan bahwa fungsi pendidikan TK dan RA
adalah : mengenalkan peraturan dan
menanamkan disiplin pada anak, mengenalkan anak-anak pada dunia sekitar,
menumbuhkan sikap dan perilaku baik, mengembangkan kemampuan berkomunikasi dan
bersosialisasi, mengembangkan keterampilan, kreatifitas, dan kemampuan yang
dimiliki anak, menyiapkan anak untuk memasuki pendidikan dasar.
Pendidikan
anak usia dini bertujuan membimbing dan mengembangkan potensi setiap anak agar
dapat berkembang secara optimal sesuai tipe kecerdasannya. Oleh karena itu
seorang anak perlu dibimbing agar mampu memahami berbagai hal tentang kehidupan
dunia dan segala isinya.
Dalam
pelaksanaan penanaman nilai moral pada anak usia dini banyak metode yang dapat
digunakan oleh guru atau pendidik. Akan tetapi dalam membimbing dan
mengembangkan potensi anak usia dini perlu metode yang tepat dan haruslah
bervareasi, dan tentunya penggunaan salah satu metode penanaman nilai moral
yang di pilih tentunya disesuaikan dengan kondisi sekolah dan kemampuan seorang
guru dalam menerapkannya. Diantara metode-metode yang biasa di gunakan yaitu:
1.
Metode bercerita
2.
Metode bernyanyi
3.
Metode bersajak atau syair
4.
Metode karya wisata
5.
Metode Pembiasaan dalam berprilaku
6.
Metode bermain
7.
Metode outbond
8.
Metode bermain peran
9.
Metode diskusi
10. Metode
teladan
Dari
hasil penelitian dan pembahasan di lima TK yang menjadi subjek penelitian
menyatakan bahwa menurutnya metode bercerita adalah yang paling efektif dan metode
yang paling sering digunakan adalah metode bercerita dan pembiasaan perilaku,
dan metode tersebut banyak membawa pengaruh positif terhadap perkembangan moral
anak. Dan dalam menanamkan nilai moral kepada sisawanya tentunya tidak berjalan
secara mulus dan banyak kendala yang harus dihadapi oleh guru-guru TK di
lapangan ketika akan menerapkan metode penanaman nilai moral pada anak usia
dini. Diantaranya yaitu:
a.
Faktor internal (kendala yang datang dari
guru itu sendiri).
b.
Faktor eksternal (yang termasuk faktor
eksternal seperti; sarana dan prasarana yang dimiliki oleh sekolah, kurangnya
komunikasi orang tua dengan anak, dan faktor lingkungan sekitar).
c.
Kurangnya konsistensi sikap orang tua dengan
apa yang di ajarkan di sekolah.
Untuk mengatasi kendala-kendala tersebut
para guru telah melakukan berbagai upaya. Mereka tidak segan-segan untuk
senantiasa belajar dan saling keterbukaan diantara para guru dan mereka saling
mengoreksi kekurangan masing-masing, dan menjadikan kekurangan atau kelemahan yang
dimiliki dapat diminimalisir.
Selain itu upaya untuk mengatasi kurangnya konsistensi
orang tua terhadap apa yang di ajarkan dan diterapkan di sekolah, maka dengan
diadakannya pertemuan rutin dengan orang tua wali dalam kurun waktu tertentu
secara kontinyu.
C.
Kesimpulan
Pendidikan
untuk usia dini perlu mendapatkan perhatian khusus, dan cara penerapannya
puntentu sangat berbeda dengan pendidikan kepada anak remaja atau dewasa.
Khususnya dalam penerapan dan penanaman nilai moral. Dan berdasarkan hasil
penelitian di lima TK di wilayah Yogyakarta menunjukkan bahwa metode penanaman
nilai moral yang digunakan yaitu; bercerita, bermain, karyawisata, outbond,
pembiasaan, teladan, syair dan diskusi.
Adapun
kendala yang dihadapi oleh guru-guru TK di lapangan sangatlah beragam
diantaranya yaitu faktor internal
(kendala dari guru-guru tersebut), faktor
eksternal (sarana dan prasarana, lingkungan, kurangnya komunikasi anak dan
orang tua), dan kurangnya konsistensi orang tua dengan apa yang di ajarkan di
sekolah.
Dan
upaya untuk mengatasi kendala tersebut yaitu dengan cara guru yang kurang mampu
atau belum menguasai teknik bercerita mereka tidak segan-segan belajar kepada
guru lainnya atau dengan belajar melalui berbagai sumber buku tentang cerita.
sedangkan upaya untuk mengatasi kurangnya konsistensi orang tua terhadap apa
yang di ajarkan dan diterapkan di sekolah, maka dengan diadakannya pertemuan
rutin dengan orang tua wali dalam kurun waktu tertentu secara kontinyu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar