Jumat, 20 Desember 2013

Analisis Epistemologi


EPISTEMOLOGI
MAKALAH
Disusun Untuk Memenuhi Tugas Kelompok Semester V ( Lima )
Pada Mata Kuliah : Filsafat Ilmu


KATA PENGANTAR
Assalamu’allaikum. Wr. Wb.
Puji syukur penulis ucapkan kehadirat Allah SWT. karena dengan rahmat dan karunia-Nya penulis masih diberi kesempatan untuk menyelesaikan makalah ini. Dimana makalah ini merupakan salah satu tugas mata kuliah “Filasafat Ilmu” yang berjudul “EPISTEMOLOGI”.
Tidak lupa penulis ucapkan terima kasih kepada dosen mata kuliah Bapak Taufik Firdaus S.Sos. juga kepada teman-teman yang telah memberikan dukungan dalam menyelesaikan makalah ini.
Penulis menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini masih banyak kekurangan, oleh sebab itu penulis sangat mengharapkan kritik dan saran dari rekan semua yang nantinya penulis jadikan bahan referensi dalam penyempurnaan makalah ini.
Dan semoga dengan selesainya makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca dan teman-teman. Aamiin.
Wassalamu’allaikum. Wr. Wb.

Penulis



DAFTAR ISI
KATA  PENGANTAR    …… …. ….…….…………..…... ………………..….…………...... i
DAFTAR ISI  ……………...…………… .….…… …..………………...…..……………..….. ii
BAB I  PENDAHULUAN    ……………….…….……….…………… ………......……….… 1
A.     Latar Belakang ……….…………….…..……………………….…….…….………… 1
B.     Ruang Lingkup …………………. …………………………… ………………………. 2
C.    Rumusan Masalah …………. …… ……………… ….…………….......…..…...... 2
D.    Tujuan Penulisan ………….………………………………………………...……… 2
E.     Metode Pengumpulan Data ………………….…………… ...…….…....…. ………. 2
BAB II  EPISTEMOLOGI  ……………………………………………………………..……… 3
A.     Pengertian Epistemologi      ……….………………………………..……………...... 3
B.     Ruang Lingkup Epistemologi     ……….….………………….……………………… 4
C.    Objek dan Tujuan Epistemologi    .…..………...…………….……………………… 4
D.    Landasan Epistemologi   ….……………..…………...………………….…………... 5
E.     Pengaruh Epistemologi dalam Perkembangan Ilmu Pengetahuan    …………… 8
BAB III  PENUTUP        ……………………….………….…..……………..…..…..…..…. 11
A.     Kesimpulan       …… ………………………...………..…...…….………............… 11
B.     Saran         ..………………… ………...…….….……..……...….…...…………….. 11
DAFTAR PUSTAKA     ……….…….……..…..….………………….…..……..…...……… 12




BAB I
PENDAHULUAN
  1. Latar Belakang
Filsafat membahas segala sesuatu yang ada bahkan yang mungkin ada baik bersifat abstrak ataupun riil meliputi Tuhan, Manusia dan Alam semesta. Sehingga untuk paham betul semua masalah filsafat sangatlah sulit tanpa adanya pemetaan-pemetaan dan mungkin kita hanya bisa menguasai sebagian dari luasnya ruang lingkup filsafat.
Sistematika filsafat secara garis besar ada tiga pokok pembahasan yaitu; Ontologi, Epistemologi, dan Aksiologi. Berdasarkan ketiga bahasan itu tentu kita semua tahu ilmu pengetahuan tidak akan tercipta tanpa adaanya ketiga aspek tersebut. Terlebih pada aspek epistemologi yang menjadi penentu adanya suatu ilmu pengetahuan yang mencakup tentang cara pembuktian kebenaran ilmu pengetahuan itu sendiri.
Pada dasarnya manusia adalah makhluk pencari kebenaran. Maka manusia tidak pernah puas dengan apa yang sudah ada, tetapi selalu mencari dan mencari kebenaran yang sesungguhnya dengan bertanya-tanya untuk mendapatkan jawaban. Namun setiap jawaban-jawaban tersebut juga selalu memuaskan manusia. Ia harus mengujinya dengan metode tertentu untuk mengukur apakah yang dimaksud disini bukanlah kebenaran  yang bersifat semu, tetapi kebenaran yang bersifat ilmiah yaitu kebenaran yang bisa diukur dengan cara-cara ilmiah. Dan metode – metode tersebut terangkum dalam epistemologi pengetahuan.
Perkembangan pengetahuan yang semakin pesat sekarang ini, tidaklah menjadikan manusia berhenti untuk mencari kebenaran. Justru sebaliknya, semakin menggiatkan manusia untuk terus mencari kebenaran yang berlandaskan teori-teori yang sudah ada sebelumnya untuk menguji sesuatu teori baru atau menggugurkan teori sebelumnya. Sehingga manusia sekarang lebih giat lagi melakukan penelitian-penelitian yang bersifat ilmiah untuk mencari solusi dari setiap permasalahan yang dihadapinya.
Berdasarkan dari latar belakang tersebut, kami team penulis akan membahas secara singkat tentang epistemologi itu sendiri yang menjadi landasan suatu ilmu pengetahuan tercipta dan terus berkembang hingga sekarang.
  1. Ruang Lingkup
Dalam penyajian makalah ini, kami team penulis akan membatasi ruang lingkup masalah ini yakni hanya seputar pengertian, ruang lingkup, objek, tujuan, landasan dan pengaruh epistemologi dalam perkembangan ilmu pengetahuan.
  1. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang dan ruang lingkupnya, maka adapun yang menjadi rumusan masalah dalam penyajian makalah ini adalah :
1.    Apa pengertian, ruang lingkup, objek dan tujuan epistemologi?
2.    Apa yang menjadi landasan epistemologi dan apa pengaruh epistemologi dalam perkembangan ilmu pengetahuan?
  1. Tujuan Penulisan
Melihat rumusan masalah yang telah di kemukakan maka yang menjadi tujuan penulisan tentu tidak jauh keluar dari rumusan masalah. Adapun tujuan penulisan makalah ini adalah :
1.    Agar kita mengetahui pengertian, ruang lingkup, objek dan tujuan epistemologi.
2.    Agar kita mengetahui landasan dan pengaruh epistemologi dalam perkembangan ilmu pengetahuan.
  1. Metode Pengumpulan Data
Setiap penyajian suatu karya ilmiah maupun karya – karya lainnya tentu ada sumber referensi yang menjadi panduan dan kekuatan hukum agar karya tersebut dapat dipertanggung jawabkan. Begitupun makalah ini, kami team penulis memperoleh sumber dan bahan acuan dari sebuah buku filsafat ilmu, juga dari beberapa sumber di internet dengan membaca dan menelaah apakah sumber tersebut objektif. Dan berdasarkan sumber – sumber tersebut kami team penulis menyusun makalah ini.




BAB II
EPISTEMOLOGI
A.     Pengertian Epistemologi
Epistemologi berasal dari bahasa Yunani yaitu kata “Episteme” dengan arti pengetahuan dan kata “Logos” berarti teori, uraian, atau alasan. Epistemologi dapat diartikan sebagai teori tentang pengetahuan yang dalam bahasa Inggris dipergunakan istilah theory of knowledge.( Surajiyo, 2008:53). Epistemologi secara etimologis diartikan sebagai teori pengetahuan yang benar dan dalam bahasa Indonesia disebut filsafat pengetahuan.
Diantara persoalan yang menjadi perhatian para filusuf adalah pengetahuan. Persoalan tentang pengetahuan itulah yang menghasilkan cabang filsafat yaitu Epistemologi (filsafat pengetahuan). Jadi epistemologi merupakan cabang-cabang filsafat yang mengkaji secara mendalam tentang asal mula pengetahuan, struktur, metode, dan validitas pengetahuan.
Epistemologi juga disebut teori pengetahuan yang secara umum membicarakan sumber-sumber, karakteristik, dan kebenaran pengetahuan. (Asmoro Achmadi,..:15). Selain itu Epistemologi membicarakan tentang sumber pengetahuan dan bagaimana cara memperoleh pengetahuan. (Ahmad Tafsir, h:23).
Epistemologi atau teori pengetahuan ialah cabang ilmu filsafat yang berurusan dengan hakikat dan lingkup pengetahuan, pengandaian-pengandaian, dan dasar-dasarnya, serta pertanggungjawaban atas pernyataan mengenai pengetahuan yang dimiliki.[[1]]
Masalah utama dari epistemologi adalah bagaimana cara memperoleh pengetahuan. Seseorang baru dapat dikatakan berpengetahuan apabila telah sanggup menjawab pertanyaan-pertanyaan epistemologi artinya pertanyaan epistemologi dapat menggambarkan manusia mencintai pengetahuan. Hal ini menyebabkan eksistensi epistemologi sangat penting untuk menggambar manusia berpengetahuan yaitu dengan jalan menjawab dan menyelesaikan masalah-masalah yang dipertanyakan dalam epistemologi. Makna pengetahuan dalam epistemologi adalah nilai tahu manusia tentang sesuatu sehingga ia dapat membedakan antara satu ilmu dengan ilmu lainnya.
Apabila keseluruhan rumusan tersebut direnungkan maka dapat dipahami bahwa prinsipnya epistemology adalah bagian filsafat yang membicarakan tentang terjadinya pengetahuan, sumber pengetahuan, asal mula pengetahuan, batas-batas, sifat metode dan keahlian pengetahuan. Oleh karena itu sistematika penulisan epistemology  adalah terjadinya pengetahuan, teori kebenaran, metode-metode ilmiah dan aliran-aliran teori pengetahuan. (Sudarsono, 2001 : 138).
B.     Ruang Lingkup Epistemologi
M. Arifin merinci ruang lingkup epistemologi, meliputi hakekat, sumber dan validitas pengetahuan. Mudlor Achmad merinci menjadi enam aspek, yaitu hakikat, unsur, macam, tumpuan, batas, dan sasaran pengetahuan.
Sedangkan Am syaifufdin  menyebutkan bahwa epistemologi mencakup pertanyaan yang harus dijawab, apakah ilmu itu, dari mana asalanya, apa sumbernya, apa hakikatnya, bagaimana membangun ilmu yang tepat dan benar, apa kebenaran itu, mungkinkah kita mencapai ilmu yang benar, apa yang dapat kita ketahui, dan sampai manakah batasannya. Semua pertanyaan itu dapat diringkas menjadi dua masalah pokok, masalah sumber ilmu dan masalah benarnya ilmu. (Mujamil Qomar, 2005:4).
Mengingat epistemologi mencakup aspek yang begitu luas, sampai Gallagher secara ekstrem menarik kesimpulan, bahwa epistemologi sama luasnya dengan filsafat. Usaha menyelidiki dan mengungkapkan kenyataan selalu seiring dengan usaha untuk menentukan apa yang diketahui dibidang tertentu.
M. Amin Abdullah menilai, bahwa seringkali kajian epistemologi lebih banyak terbatas pada dataran konsepsi asal-usul atau sumber ilmu pengetahuan secara konseptual-filosofis. Sedangkan Paul Suparno menilai epistemologi banyak membicarakan mengenai apa yang membentuk pengetahuan ilmiah. Sementara itu, aspek-aspek lainnya justru diabaikan dalam pembahasan epistemologi, atau setidak-tidaknya kurang mendapat perhatian yang layak.
Namun, penyederhanaan makna epistemologi itu berfungsi memudahkan pemahaman seseorang, terutama pada tahap pemula untuk mengenali sistematika filsafat, khususnya bidang epistemologi. Hanya saja, jika dia ingin mendalami dan menajamkan pemahaman epistemologi, tentunya tidak bisa hanya memegangi makna epistemologi sebatas metode pengetahuan, akan tetapi epistemologi dapat menyentuh pembahasan yang amat luas, yaitu komponen-komponen yang terkait langsung dengan “bangunan” pengetahuan.
C.    Objek dan Tujuan Epistemologi
Sebagai sub sistem filsafat, epistemologi atau teori pengetahuan yang untuk pertama kali digagas oleh Plato ini memiliki objek tertentu. Objek epistemologi ini menurut Jujun S. Surya suamantri (1990:105) berupa Segenap proses yang terlibat dalam usaha kita untuk memperoleh pengetahuan.” Proses untuk memperoleh pengetahuan inilah yang mejadi sasaran teori pengetahuan dan sekaligus berfungsi mengantarkan tercapainya tujuan, sebab sasaran itu merupakan suatu tahap perantara yang harus dilalui dalam mewujudkan tujuan. Tanpa suatu sasaran, mustahil tujuan bisa terealisir, sebaliknya tanpa suatu tujuan, maka sasaran menjadi tidak terarah sama sekali.
Tujuan epistemologi menurut Jacques Martain yaitu: Tujuan epistemologi bukanlah hal yang utama untuk menjawab pertanyaan, apakah saya dapat tahu, tetapi untuk menemukan syarat-syarat yang memungkinkan saya dapat tahu.” Hal ini menunjukkan bahwa tujuan epistemologi bukan untuk memperoleh pengetahuan. Meskipun keadaan ini tidak bisa dihindari akan tetapi yang menjadi pusat perhatian dari tujuan epistemologi adalah ada hal yang lebih penting dari itu, yaitu ingin memiliki potensi untuk memperoleh pengetahuan.
Rumusan tujuan epistemologi tersebut memiliki makna strategis dalam dinamika pengetuhuan. Rumusan tersebut menumbuhkan kesadaran seseorang bahwa jangan sampai kita puas dengan sekedar memperoleh pengetahuan, tanpa disertai dengan cara atau bekal untuk memperoleh pengetahuan, sebab keadaan memperoleh pengetahuan melambangkan sikap pasif, sedangkan cara memperoleh pengetahuan melambangkan sikap dinamis. (Mujammil Qomar, 2005:7).
D.    Landasan Epistemologi
Landasan epistemologi ilmu disebut metode ilmiah, yaitu cara yang dilakukan ilmu dalam menyusun pengetahuan yang benar. Metode ilmiah merupakan prosedur dalam mendapatkan pengetahuan yang disebut ilmu. Jadi, ilmu pengetahuan merupakan pengetahuan yang didapatkan lewat metode ilmiah. Tidak semua pengetahuan disebut ilmiah, sebab ilmu merupakan pengetahuan yang cara mendapatkannya harus memenuhi syarat-syarat tertentu. Syarat-syarat yang harus dipenuhi agar suatu pengetahuan bisa disebut ilmu tercantum dalam metode ilmiah.
Menurut Burhanudin Salam Metode ilmiah dapat dideskripsikan dalam langkah-langkah sebagai berikut :
a.    Penemuan atau Penentuan masalah
b.    Perumusan Kerangka Masalah
c.    Pengajuan hipotesis
d.    Hipotesis dari Deduksi
e.    Pembuktian hipotesis
f.     Penerimaan Hipotesis
Metode ilmiah berperan dalam tataran transformasi dari wujud pengetahuan menjadi ilmu pengetahuan. Bisa tidaknya pengetahuan menjadi ilmu pengetahuan  sangat bergantung pada metode ilmiah. Dengan demikian metode ilmiah selalu disokong oleh dua pilar pengetahuan, yaitu rasio dan fakta secara integratif.
Rasio atau akal merupakan instrumen utama untuk memperoleh pengetahuan. Rasio ini telah lama digunakan manusia untuk memecahkan atau menemukan jawaban atas suatu masalah pengetahuan. Bahkan ini merupakan cara tertua yang digunakan manusia dalam wilayah keilmuan. Pendekatan sistematis yang mengandalkan rasio disebut pendekatan rasional dengan pegertian lain disebut dengan metode deduktif yang dikenal dengan silogisme Aristoteles, karena dirintis oleh Aristoteles. (M. Qomar, 2005:10).
Menurut Bakhtiar. A (2013:152), Pengetahuan yang diperoleh oleh manusia melalui akal, indera mempunyai metode tersendiri dalam teori pengetahuan, diantaranya adalah:
1.    Metode induktif
Induksi merupakan suatu metode yang menyimpulkan pernyataan-pernyataan hasil observasi disimpulkan dalam suatu pernyataan yang lebih umum. (Tim Dosen Filsafat Ilmu, 1996:109). Dan menurut suatu pandangan yang luas diterima, ilmu-ilmu empiris ditandai oleh metode induktif, suatu inferensi bisa disebut induktif bila bertolak dari pernyataan-pernyataan tunggal, seperti gambaran mengenai hasil pengamatan dan penelitian orang sampai pada pernyataan-pernyaatn universal.
Menurut David Hume (1711-1716), pernyataan yang berdasarkan observasi tunggal betapa pun besar jumlahnya, secara logis tak dapat menghasilkan suatu pernyataan umum yang tak terbatas. Jadi Dalam induksi setelah diperoleh pengetahuan, maka akan dipergunakan hal-hal lain. Berdasarkan hal tersebut maka induksi dalam pengetahuan disebut juga denan pengetahuan sintetik.
2.    Metode Deduktif
Deduksi merupakan  suatu metode yang menyimpulkan bahwa data empirik diolah lebih lanjut dalam suatu sistem pernyataan yang runtut. (Tim Dosen Filsafat Ilmu, 1996:109). Hal-hal yang harus ada dalam metode deduktif ialah adanya perbandingan logis antara kesimpulan-kesimpulan itu sendiri.
3.    Metode Positivisme
Metode ini dikeluarkan oleh August Comte (1798-1857). Metode ini berpangkal dari apa yang telah diketahui, yang faktual, yang positif. Ia mengenyampingkan segala uraian atau persoalan di luar yang ada sebagai fakta. Oleh karena itu ia menolak metafisika. Apa yang diketahui secarapositif, adalah segala yang tampak dan segala gejala-gejala. Dengan demikian metode ini dalam idang filsafat dan ilmu pengetahuan dibatasi kepada bidang gejala-gejala saja.
Menurut Comte, perkembangan pemikiran manusia berlangsung dalam tiga tahap yaitu teologis, metafisis, dan positif. Pada tahap teologis, orang berkeyakinan bahwa dibalik segala sesuatu tersirat pernyataan kehendak khusus. Pada tahap metafisik, kekuatan adikodrati itu diubah menjadi kekuatan yang abstrak, yang kemudian dipersatukan dalam pengertian yan bersifat umum yang disebut alam dan dipandang sebagai asal dari segala gejala.
Menurutnya kedua hal tentang teologis dan metafisik dipandang tak berguna. Yang penting adalah menemukan hukum-hukum kesamaan dan urutan yang terdapat pada fakta-fakta dengan pengamatan dan penggunaan akal.
4.    Metode Kontemplatif
Metode ini mengatakan adanya keterbatasan indera dan akal manusia untuk memperoleh pengetahuan sehingga objek yang dihasilkan pun akan berbeda-beda harusnya dikembangkan suatu kemampuan akal yang disebut dengan intuisi. Pengetahuan yang bereda-beda ini bisa diperoleh dengan cara berkontemplasi seperti yan dilakukan oleh Al-Ghazali.
Intuisi dalam tasawuf disebut dengan ma’rifat yaitu penetahuan yang dating dari Tuhan melalui pencerahan dan penyinaran.[[2]] Al-Ghazali menerapkan bahwa pengetahuan intuisi atau ma’rifat yang disinarkan oleh Allah secara langsung merupakan pengetahuan yang paling benar. Pengetahuan yang diperoleh lewat intuisi ini hanya bersifat indifidual.
5.    Metode Dialektis
Metode dialektis yaitu metode Tanya jawab (Socrates). Sedangkan menurut Plato metode dialektis adalah diskusi logika. Menurut Gazalba. S (1991:125) dialektika merupakan metode tanya jawab untuk mencapai kejernihan filsafat. Kini dialektika berarti tahap logika, yang mengajarkan kaidah-kaidah dan metode-metode penuturan, juga analisis sistematik tentang ide-ide untuk mencapai apa yang terkandung dalam pandangan.
Dalam kehidupan sehari-hari dialektika berarti kecakapan untuk melakukan perdebatan. Menurut Ahmad tafsir, (1990:153) bahwa Hegel menggunakan metode dialektis untuk menjelaskan filsafatnya, lebih luas dari itu, menurut Hegel dalam realitas ini berlangsung dialektika. Dan dialektika disini berarti mengkompromikan hal-hal yang berlawanan. Seperti:
a.    Diktator. Disini manusia diatur dengan baik, tetapi mereka tidak punya kebebasan (tesis).
b.    Anarki (anti tesis) mempunyai kebebasan tetapi hidup dalam kekacauan.
c.    Disenteis (tesis dan anti tesis) yaitu Negara demokrasi. Kebebasan dibatasi oleh undang-undang dan hidup masyarakat tidak kacau.
E.     Pengaruh Epistemologi dalam Ilmu Pengetahuan
Sebagai teori pengetahuan ilmiah, epistemologi berfungsi dan bertugas menganalisis secara kritis prosedur yang ditempuh ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan harus berkembang terus, sehingga tidak jarang temuan ilmu pengetahuan ditentang atau disempurnakan oleh temuan ilmu pengetahuan yang kemudian.
Epistemologi juga membekali daya kritik yang tinggi terhadap konsep-konsep atau teori-teori yang ada. Penguasaan epistemologi, terutama cara-cara memperoleh pengetahuan sangat membantu seseorang dalam melakuakan koreksi kritis terhadap bangunan pemikiran yang diajukan orang lain maupun dirinya sendirinya. Sehingga perkembangan ilmu pengetahuan relatif mudah dicapai, bila para ilmuwan memperkuat penguasaannya.
Secara global epistemologi berpengaruh terhadap peradaban manusia. Suatu peradaban sudah tentu dibentuk oleh teori pengetahuannya. Epistemologilah yang menentukan kemajuan sains dan teknologi. Dan epistemologi menjadi modal dasar dan alat strategis dalam merekayasa pegembangan alam menjadi sebuah produk sains yang bermanfaat bagi kehidupan manusia. Demikian halnya yang terjadi pada teknologi meskipun teknologi sebagai penerapan sains, tetapi jika dilacak lebih jauh ternyata teknologi sebagai akibat dari pemanfaatan dan pengembangan epistemologi.
Ilmu pengetahuan memiliki peranan penting dalam membentuk peradaban dan budaya manusia, berdasarkan hal itu muncul kecenderungan para ilmuwan untuk lebih berinovasi untuk menemukan dan merumuskan ilmu pengetahuan berikutnya. Dan segala perkembangan ilmu pengetahuan tidak luput dari adanya epistimologi pengetahuan.
Adapun beberapa teori kebenaran epistemologi menurut Endang Saifuddin Anshari (dalam H. Mumuh M. Zakaria, 2008) adalah teori kebenaran dapat ditentukan dengan :
a.    Teori Koherensi atau Konsistensi (The Consistence or Coherence Theory of Truth).
Pertama: Kebenaran ialah kesesuaian antara suatu pernyataan dengan pernyataan-pernyataan lainnya yang sudah lebih lebih dahulu diketahui, diterima dan diakui sebagai benar. Kedua: Suatu putusan dianggap benar apabila mendapat penyaksian (pembenaran) oleh putusan-putusan lainnya yang terdahulu yang sudah diketahui,diterima dan diakui benarnya. Teori ini dianut oleh mazhab idealisme. Penggagas teori ini adalah Plato (427-347 S.M.) dan Aristoteles (384-322 S.M.), selanjutnya dikembangkan oleh Hegel dan F.H. Bradley (1864-1924).
Sedangkan menurut sumber lain kebenaran koherensi adalah kebenaran ditegakkan atas hubungan antara putusan yang baru itu dengan putusán-putusan lainnya yang telah kita ketahui dan di akui kebenarannya terlebih dahulu. Menurut  teori ini, putusan yang satu dengan yang Iainnya saling berhubungan dan saling menerangkan satu sama lain. Karenanya lahirlah rumusan: “Truth is a systematic coherence” kebenaran adalah saling hubungan yang sistematis; “Truth is consistency” kebenaran adalah konsistensi dan kecocokan.
Teori konsistensi atau koherensi ini berkembang pada abad ke-19 dibawah pengaruh Hegel dan diikuti oleh pengikut mazhab idealisme. Seperti filsuf Britania F. M Bradley (1864-1924).
Teori ini dapat dinamakan teori penyaksian (justifikasi) tentang kebenaran, karena menurut teori ini satu putusan dianggap benar apabila mendapat penyaksian-penyaksian (justifikasi, pembenaran) oleh putusan-putusan Iainnya yang terdahulu yang sudah diketahui, diterima, dan diakui benarnya.
b.    Teori Korespondensi (The Correspondence Theory of Thruth)
Kebenaran adalah kesesuaian antara pernyataan tentang sesuatu dengan kenyataan sesuatu itu sendiri. Teori ini digagas oleh Aristoteles (384-322 S.M.), selanjutnya dikembangkan oleh Bertrand Russel (1872-1970). Penganut teori ini adalah mazhab realisme dan materialisme.
Sedangkan menurut satu sumber lain kebenaran epistemologis adalah kemanunggalan antara subjek dan objek. Pengetahuan itu dikatakan benar apabila di dalam kemanunggalan yang sifatnya intrinsik, intensional, dan pasif-aktif terdapat kesesuaian antara apa yang ada di dalam pengetahuan subjek dengan apa yang ada di dalam objek. Hal itu karena puncak dan proses kognitif manusia terdapat di dalam budi atau pikiran manusia (intelectus), maka pengetahuan adalah benar bila apa yang terdapat di dalam budi pikiran subjek itu benar sesuai dengan apa yang ada di dalam objek.
Di antara pelopor teori korespondensi ini adalah Plato, Aristoteles, Moore, Russel, Ramsey, dan Tarski. Teori ini dikembangkan oleh Bertrand Russell (1872-197O). Seseorang yang bernama K. Roders, seorang penganut realisme kritis Amerika, berpendapat, bahwa: “keadaan benar ini terletak dalam kesesuaian antara “esensi atau arti yang kita berikan” dengan “esensi yang terdapat di dalam objeknya””.
c.    Teori Pragmatis (The Pragmatic Theory of Truth)
“Kebenaran suatu pernyataan diukur dengan kriteria apakah pernyataan tersebut bersifat fungsional dalam kehidupan praktis”; dengan kata lain, “suatu pernyataan adalah benar jika pernyataan itu mempunyai kegunaan praktis dalam kehidupan manusia”. Kata kunci teori ini adalah: kegunaan (utility), dapat dikerjakan (workability), akibat atau pengaruhnya yang memuaskan (satisfactory consequencies). Pencetus teori ini adalah Charles S. Pierce (1839-1914) dan William James (Amerika Serikat).
Menurut sumber lain teori pragmatisme tentang kebenaran, the pramagtic (pramagtist) theory of truth. Menurut filsafat ini benar tidaknya suatu ucapan, dalil atau teori semata mata bergantung kepada asas manfaat. Sesuatu dianggap benar jika mendatangkan manfaat dan akan dikatakan salah jika tidak mendatangkan manfaat. Menurut teori pragmatisme, suatu kebenaran dan suatu pernyataan diukur dengan kriteria apakah pernyataan tersebut bersifat fungsional dalam kehidupan manusia.
Selain itu ada satu sumber yang menjelaskan bahwa Agama termasuk teori kebenaran. Manusia adalah makhluk pencari kebenaran. Salah satu cara untuk menemukan suatu kebenaran adalah melalui agama. Agama dengan karakteristiknya sendiri memberikan jawaban atas segala persoalan asasi yang dipertanyakan manusia; baik tentang alam, manusia, maupun tentang Tuhan. Kalau ketiga teori kebenaran sebelumnya lebih mengedepankan akal, budi, rasio, dan reason manusia, dalam agama yang dikedepankan adalah wahyu yang bersumber dan Tuhan.
Dengan demikian, suatu hal itu dianggap benar apabila sesuai dengan ajaran agama atau wahyu sebagai penentu kebenaran mutlak. OIeh karena itu, sangat wajar ketika Imam AL-Ghazali merasa tidak puas dengan penemuan-penemuan akalnya dalam mencari suatu kebenaran. Akhirnya Al-Ghazali sampai pada kebenaran yang kemudian dalam tasawuf setelah dia mengalami proses yang amat panjang dan berbelit-belit.
Tasawuflah yang menghilangkan keragu-raguan tentang segala sesuatu. Kebenaran menurut agama inilah yang dianggap oleh kaum sufi sebagai kebenaran mutlak; yaitu kebenaran yang sudah tidak dapat diganggu gugat lagi. Namun Al-Ghazali tetap merasa kesulitan menentukan kriteria kebenaran. Akhirnya kebenaran yang di dapatnya adalah kebenaran subjektif atau inter-sujektif.




BAB III
PENUTUP
A.     Kesimpulan
Epistemologi adalah bagian filsafat yang membicarakan tentang terjadinya pengetahuan, sumber pengetahuan, asal mula pengetahuan, batas-batas, sifat metode dan keahlian pengetahuan. Oleh karena itu sistematika penulisan epistemology  adalah terjadinya pengetahuan, teori kebenaran, metode-metode ilmiah dan aliran-aliran teori pengetahuan. (Sudarsono, 2001 : 138).
Epistemologi mencakup pertanyaan yang harus dijawab, apakah ilmu itu, dari mana asalanya, apa sumbernya, apa hakikatnya, bagaimana membangun ilmu yang tepat dan benar, apa kebenaran itu, mungkinkah kita mencapai ilmu yang benar, apa yang dapat kita ketahui, dan sampai manakah batasannya. Semua pertanyaan itu dapat diringkas menjadi dua masalah pokok, masalah sumber ilmu dan masalah benarnya ilmu. (Mujamil Qomar, 2005:4).
Objek epistemologi ini menurut Jujun S. Surya suamantri (1990:105) berupa “Segenap proses yang terlibat dalam usaha kita untuk memperoleh pengetahuan.” Tujuan epistemologi bukanlah hal yang utama untuk menjawab pertanyaan, apakah kita dapat tahu, tetapi untuk menemukan syarat-syarat yang memungkinkan kita dapat tahu.
Landasan epistemologi ilmu disebut metode ilmiah, yaitu cara yang dilakukan ilmu dalam menyusun pengetahuan yang benar. Metode ilmiah merupakan prosedur dalam mendapatkan pengetahuan yang disebut ilmu.
Epistemologi berpengaruh terhadap peradaban manusia. Suatu peradaban sudah tentu dibentuk oleh teori pengetahuannya. Epistemologilah yang menentukan kemajuan sains dan teknologi. Dan epistemologi menjadi modal dasar dan alat strategis dalam merekayasa pegembangan alam menjadi sebuah produk sains yang bermanfaat bagi kehidupan manusia.
B.     Saran
Sebagaimana makhluk lainnya, manusia tidak luput dari kesalahan dan setiap kesalahan akan diminta pertanggung jawaban. Berdasarkan kalimat tersebut team penulis ingin menyampaikan satu kalimat yang mungkin akan memberikan motivasi kepada kita semua. Bahwasanya “Perbedaan bukanlah hambatan namun perbedaan menjadi tolak ukur untuk kita menjadi lebih baik”.
Wassalam….


DAFTAR PUSTAKA
1.     Prof. Dr. Abdullah, Idi. Med. (2011). Filsafat Pendidikan.
2.     Prof. Dr. Bakhtiar, A. (2013). Filsafat Ilmu. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.
3.     Sudarsono, (2001). Ilmu Filsafat Suatu Pengantar , Jakarta: PT. Rineka Cipta.
4.     Surajiyo, (2008). Ilmu filsafat Suatu Pengantar, Jakarta: PT. Bumi Aksara.
8.     Tim Dosen Filsafat Ilmu; Filsafat Ilmu, (Yogyakarta: Liberty, 1996), hlm. 109
9.     Sumantri, Jujun S. (1990). Filsafat Ilmu sebuah pengantar Populer, Jakarta: Pustaka Sinar Harapan.
10.   Mujammil Qomar, (2005). Epistemologi Pendidikan Islam: dari metode rasional hingga metode kritik, Jakarta: PT. Erlangga.





[[1]] DW. Hamlyn, History of Epistemologi, dalam Paul Edwards, The Encyclopedia of Philosophy, 1967, Vol. 3, hlm. 9.
[[2]] Al-Ghazali, al-Munqidh min al-Dhalal, Setitik cahaya dalam kegelapan, terj. Masyhur Abadi, (Surabaya: Progresif, 2002)   hlm. 32.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar