EPISTEMOLOGI
MAKALAH
Disusun Untuk Memenuhi Tugas Kelompok Semester V (
Lima )
Pada Mata Kuliah : Filsafat Ilmu
KATA PENGANTAR
Assalamu’allaikum.
Wr. Wb.
Puji
syukur penulis ucapkan kehadirat Allah SWT. karena dengan rahmat dan
karunia-Nya penulis masih diberi kesempatan untuk menyelesaikan makalah ini. Dimana
makalah ini merupakan salah satu tugas mata kuliah “Filasafat Ilmu” yang berjudul “EPISTEMOLOGI”.
Tidak
lupa penulis ucapkan terima kasih kepada dosen mata kuliah Bapak Taufik Firdaus
S.Sos. juga kepada teman-teman yang telah memberikan dukungan dalam
menyelesaikan makalah ini.
Penulis
menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini masih banyak kekurangan, oleh sebab
itu penulis sangat mengharapkan kritik dan saran dari rekan semua yang nantinya
penulis jadikan bahan referensi dalam penyempurnaan makalah ini.
Dan
semoga dengan selesainya makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca dan
teman-teman. Aamiin.
Wassalamu’allaikum.
Wr. Wb.
Penulis
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR
…… …. ….…….…………..…... ………………..….…………...... i
DAFTAR
ISI ……………...…………… .….…… …..………………...…..……………..…..
ii
BAB
I PENDAHULUAN ……………….…….……….…………… ………......……….… 1
A. Latar
Belakang ……….…………….…..……………………….…….…….………… 1
B. Ruang Lingkup …………………. ……………………………
………………………. 2
C. Rumusan
Masalah ……………. …… ……………… ….…………….......…..…...... 2
D. Tujuan
Penulisan …………….………………………………………………...……… 2
E. Metode Pengumpulan Data ………………….…………… ...…….…....…. ………. 2
BAB
II EPISTEMOLOGI ……………………………………………………………..……… 3
A. Pengertian Epistemologi ……….………………………………..……………...... 3
B. Ruang Lingkup Epistemologi ……….….………………….……………………… 4
C. Objek dan Tujuan Epistemologi .…..………...…………….……………………… 4
D. Landasan Epistemologi ….……………..…………...………………….…………... 5
E. Pengaruh Epistemologi dalam
Perkembangan Ilmu Pengetahuan …………… 8
BAB
III PENUTUP ……………………….………….…..……………..…..…..…..…. 11
A.
Kesimpulan ……
………………………...………..…...…….………............… 11
B.
Saran ..…………………
………...…….….……..……...….…...…………….. 11
DAFTAR
PUSTAKA
……….…….……..…..….………………….…..……..…...……… 12
BAB
I
PENDAHULUAN
- Latar Belakang
Filsafat
membahas segala sesuatu yang ada bahkan yang mungkin ada baik bersifat abstrak
ataupun riil meliputi Tuhan, Manusia dan Alam semesta. Sehingga untuk paham
betul semua masalah filsafat sangatlah sulit tanpa adanya pemetaan-pemetaan dan
mungkin kita hanya bisa menguasai sebagian dari luasnya ruang lingkup filsafat.
Sistematika
filsafat secara garis besar ada tiga pokok pembahasan yaitu; Ontologi,
Epistemologi, dan Aksiologi. Berdasarkan ketiga bahasan itu tentu kita semua
tahu ilmu pengetahuan tidak akan tercipta tanpa adaanya ketiga aspek tersebut.
Terlebih pada aspek epistemologi yang menjadi penentu adanya suatu ilmu
pengetahuan yang mencakup tentang cara pembuktian kebenaran ilmu pengetahuan
itu sendiri.
Pada
dasarnya manusia adalah makhluk pencari kebenaran. Maka manusia tidak pernah
puas dengan apa yang sudah ada, tetapi selalu mencari dan mencari kebenaran
yang sesungguhnya dengan bertanya-tanya untuk mendapatkan jawaban. Namun setiap
jawaban-jawaban tersebut juga selalu memuaskan manusia. Ia harus mengujinya
dengan metode tertentu untuk mengukur apakah yang dimaksud disini bukanlah
kebenaran yang bersifat semu, tetapi kebenaran yang bersifat ilmiah yaitu
kebenaran yang bisa diukur dengan cara-cara ilmiah. Dan metode – metode
tersebut terangkum dalam epistemologi pengetahuan.
Perkembangan
pengetahuan yang semakin pesat sekarang ini, tidaklah menjadikan manusia
berhenti untuk mencari kebenaran. Justru sebaliknya, semakin menggiatkan
manusia untuk terus mencari kebenaran yang berlandaskan teori-teori yang sudah
ada sebelumnya untuk menguji sesuatu teori baru atau menggugurkan teori
sebelumnya. Sehingga manusia sekarang lebih giat lagi melakukan
penelitian-penelitian yang bersifat ilmiah untuk mencari solusi dari setiap
permasalahan yang dihadapinya.
Berdasarkan
dari latar belakang tersebut, kami team penulis akan membahas secara singkat
tentang epistemologi itu sendiri yang menjadi landasan suatu ilmu pengetahuan
tercipta dan terus berkembang hingga sekarang.
- Ruang Lingkup
Dalam
penyajian makalah ini, kami team penulis akan membatasi ruang lingkup masalah
ini yakni hanya seputar pengertian, ruang lingkup, objek, tujuan, landasan dan
pengaruh epistemologi dalam perkembangan ilmu pengetahuan.
- Rumusan Masalah
Berdasarkan
latar belakang dan ruang lingkupnya, maka adapun yang menjadi rumusan masalah
dalam penyajian makalah ini adalah :
1. Apa pengertian, ruang lingkup, objek
dan tujuan epistemologi?
2. Apa yang menjadi landasan
epistemologi dan apa pengaruh epistemologi dalam perkembangan ilmu pengetahuan?
- Tujuan Penulisan
Melihat
rumusan masalah yang telah di kemukakan maka yang menjadi tujuan penulisan
tentu tidak jauh keluar dari rumusan masalah. Adapun tujuan penulisan makalah
ini adalah :
1. Agar kita mengetahui pengertian,
ruang lingkup, objek dan tujuan epistemologi.
2. Agar kita mengetahui landasan dan
pengaruh epistemologi dalam perkembangan ilmu pengetahuan.
- Metode Pengumpulan Data
Setiap
penyajian suatu karya ilmiah maupun karya – karya lainnya tentu ada sumber
referensi yang menjadi panduan dan kekuatan hukum agar karya tersebut dapat
dipertanggung jawabkan. Begitupun makalah ini, kami team penulis memperoleh
sumber dan bahan acuan dari sebuah buku filsafat ilmu, juga dari beberapa
sumber di internet dengan membaca dan menelaah apakah sumber tersebut objektif.
Dan berdasarkan sumber – sumber tersebut kami team penulis menyusun makalah
ini.
BAB II
EPISTEMOLOGI
A. Pengertian Epistemologi
Epistemologi
berasal dari bahasa Yunani yaitu kata “Episteme” dengan arti pengetahuan
dan kata “Logos” berarti teori, uraian, atau alasan. Epistemologi dapat
diartikan sebagai teori tentang pengetahuan yang dalam bahasa Inggris
dipergunakan istilah theory of knowledge.( Surajiyo,
2008:53). Epistemologi secara etimologis diartikan sebagai
teori pengetahuan yang benar dan dalam bahasa Indonesia disebut filsafat
pengetahuan.
Diantara
persoalan yang menjadi perhatian para filusuf adalah pengetahuan. Persoalan
tentang pengetahuan itulah yang menghasilkan cabang filsafat yaitu Epistemologi
(filsafat pengetahuan). Jadi epistemologi merupakan cabang-cabang filsafat yang
mengkaji secara mendalam tentang asal mula pengetahuan, struktur, metode, dan
validitas pengetahuan.
Epistemologi
juga disebut teori pengetahuan yang secara umum membicarakan sumber-sumber,
karakteristik, dan kebenaran pengetahuan. (Asmoro
Achmadi,..:15). Selain itu Epistemologi membicarakan tentang sumber
pengetahuan dan bagaimana cara memperoleh pengetahuan. (Ahmad Tafsir, h:23).
Epistemologi
atau teori pengetahuan ialah cabang ilmu filsafat yang berurusan dengan hakikat
dan lingkup pengetahuan, pengandaian-pengandaian, dan dasar-dasarnya, serta
pertanggungjawaban atas pernyataan mengenai pengetahuan yang dimiliki.[[1]]
Masalah utama
dari epistemologi adalah bagaimana cara memperoleh pengetahuan. Seseorang baru dapat dikatakan berpengetahuan apabila telah sanggup
menjawab pertanyaan-pertanyaan epistemologi artinya pertanyaan epistemologi
dapat menggambarkan manusia mencintai pengetahuan. Hal ini menyebabkan
eksistensi epistemologi sangat penting untuk menggambar manusia
berpengetahuan yaitu dengan jalan menjawab dan menyelesaikan masalah-masalah
yang dipertanyakan dalam epistemologi. Makna pengetahuan dalam epistemologi
adalah nilai tahu manusia tentang sesuatu sehingga ia dapat membedakan antara
satu ilmu dengan ilmu lainnya.
Apabila
keseluruhan rumusan tersebut direnungkan maka dapat dipahami bahwa
prinsipnya epistemology adalah bagian filsafat yang
membicarakan tentang terjadinya pengetahuan, sumber pengetahuan, asal mula
pengetahuan, batas-batas, sifat metode dan keahlian pengetahuan. Oleh karena
itu sistematika penulisan epistemology adalah terjadinya
pengetahuan, teori kebenaran, metode-metode ilmiah dan aliran-aliran teori
pengetahuan. (Sudarsono, 2001 : 138).
B. Ruang Lingkup Epistemologi
M.
Arifin merinci ruang lingkup epistemologi, meliputi hakekat, sumber dan
validitas pengetahuan. Mudlor Achmad merinci menjadi enam aspek, yaitu hakikat,
unsur, macam, tumpuan, batas, dan sasaran pengetahuan.
Sedangkan
Am syaifufdin menyebutkan bahwa
epistemologi mencakup pertanyaan yang harus dijawab, apakah ilmu itu, dari mana
asalanya, apa sumbernya, apa hakikatnya, bagaimana membangun ilmu yang tepat
dan benar, apa kebenaran itu, mungkinkah kita mencapai ilmu yang benar, apa
yang dapat kita ketahui, dan sampai manakah batasannya. Semua pertanyaan itu
dapat diringkas menjadi dua masalah pokok, masalah sumber ilmu dan masalah
benarnya ilmu. (Mujamil Qomar, 2005:4).
Mengingat
epistemologi mencakup aspek yang begitu luas, sampai Gallagher secara ekstrem
menarik kesimpulan, bahwa epistemologi sama luasnya dengan filsafat. Usaha
menyelidiki dan mengungkapkan kenyataan selalu seiring dengan usaha untuk
menentukan apa yang diketahui dibidang tertentu.
M.
Amin Abdullah menilai, bahwa seringkali kajian epistemologi lebih banyak
terbatas pada dataran konsepsi asal-usul atau sumber ilmu pengetahuan secara
konseptual-filosofis. Sedangkan Paul Suparno menilai epistemologi banyak
membicarakan mengenai apa yang membentuk pengetahuan ilmiah. Sementara itu,
aspek-aspek lainnya justru diabaikan dalam pembahasan epistemologi, atau
setidak-tidaknya kurang mendapat perhatian yang layak.
Namun,
penyederhanaan makna epistemologi itu berfungsi memudahkan pemahaman seseorang,
terutama pada tahap pemula untuk mengenali sistematika filsafat, khususnya
bidang epistemologi. Hanya saja, jika dia ingin mendalami dan menajamkan
pemahaman epistemologi, tentunya tidak bisa hanya memegangi makna epistemologi
sebatas metode pengetahuan, akan tetapi epistemologi dapat menyentuh pembahasan
yang amat luas, yaitu komponen-komponen yang terkait langsung dengan “bangunan”
pengetahuan.
C. Objek dan Tujuan Epistemologi
Sebagai sub
sistem filsafat, epistemologi atau teori pengetahuan yang untuk pertama kali
digagas oleh Plato ini memiliki objek tertentu. Objek epistemologi ini menurut
Jujun S. Surya suamantri (1990:105) berupa “Segenap proses yang terlibat dalam usaha kita untuk memperoleh pengetahuan.”
Proses untuk memperoleh pengetahuan inilah yang mejadi sasaran teori
pengetahuan dan sekaligus berfungsi mengantarkan tercapainya tujuan, sebab
sasaran itu merupakan suatu tahap perantara yang harus dilalui dalam mewujudkan
tujuan. Tanpa suatu
sasaran, mustahil tujuan bisa terealisir, sebaliknya tanpa suatu tujuan, maka
sasaran menjadi tidak terarah sama sekali.”
Tujuan
epistemologi menurut Jacques
Martain yaitu: “Tujuan epistemologi bukanlah hal yang utama untuk menjawab
pertanyaan, apakah saya dapat tahu, tetapi untuk menemukan syarat-syarat yang
memungkinkan saya dapat tahu.” Hal ini menunjukkan bahwa tujuan epistemologi bukan
untuk memperoleh pengetahuan.
Meskipun keadaan ini tidak bisa
dihindari akan tetapi yang menjadi pusat perhatian dari tujuan epistemologi
adalah ada hal yang lebih penting
dari itu, yaitu ingin memiliki potensi untuk memperoleh pengetahuan.
Rumusan tujuan epistemologi tersebut
memiliki makna strategis dalam dinamika pengetuhuan. Rumusan tersebut
menumbuhkan kesadaran seseorang bahwa jangan sampai kita puas dengan sekedar
memperoleh pengetahuan, tanpa disertai dengan cara atau bekal untuk memperoleh
pengetahuan, sebab keadaan memperoleh pengetahuan melambangkan sikap pasif,
sedangkan cara memperoleh pengetahuan melambangkan sikap dinamis. (Mujammil Qomar, 2005:7).
D. Landasan Epistemologi
Landasan epistemologi ilmu disebut
metode ilmiah, yaitu cara yang dilakukan ilmu
dalam menyusun pengetahuan yang benar. Metode ilmiah merupakan prosedur dalam
mendapatkan pengetahuan yang disebut ilmu. Jadi, ilmu pengetahuan merupakan
pengetahuan yang didapatkan lewat metode ilmiah. Tidak semua pengetahuan
disebut ilmiah, sebab ilmu merupakan pengetahuan yang cara mendapatkannya harus
memenuhi syarat-syarat tertentu. Syarat-syarat yang harus dipenuhi agar suatu
pengetahuan bisa disebut ilmu tercantum dalam metode ilmiah.
Menurut
Burhanudin Salam Metode ilmiah dapat dideskripsikan dalam langkah-langkah
sebagai berikut :
a. Penemuan atau Penentuan masalah
b. Perumusan Kerangka Masalah
c. Pengajuan hipotesis
d. Hipotesis dari Deduksi
e. Pembuktian hipotesis
f. Penerimaan Hipotesis
Metode ilmiah berperan dalam tataran
transformasi dari wujud pengetahuan menjadi ilmu pengetahuan. Bisa tidaknya
pengetahuan menjadi ilmu pengetahuan sangat bergantung pada metode
ilmiah. Dengan demikian metode ilmiah selalu disokong oleh dua pilar
pengetahuan, yaitu rasio dan fakta secara integratif.
Rasio atau akal merupakan instrumen
utama untuk memperoleh pengetahuan. Rasio ini telah lama digunakan manusia
untuk memecahkan atau menemukan jawaban atas suatu masalah pengetahuan. Bahkan
ini merupakan cara tertua yang digunakan manusia dalam wilayah keilmuan.
Pendekatan sistematis yang mengandalkan rasio disebut pendekatan rasional dengan pegertian
lain disebut dengan metode deduktif yang dikenal dengan silogisme
Aristoteles, karena dirintis oleh Aristoteles. (M. Qomar, 2005:10).
Menurut Bakhtiar. A (2013:152), Pengetahuan yang diperoleh
oleh manusia melalui akal, indera mempunyai metode tersendiri dalam teori
pengetahuan, diantaranya adalah:
1. Metode
induktif
Induksi merupakan suatu metode yang menyimpulkan
pernyataan-pernyataan hasil observasi disimpulkan dalam suatu pernyataan yang
lebih umum. (Tim Dosen Filsafat Ilmu,
1996:109). Dan menurut suatu pandangan yang luas diterima, ilmu-ilmu empiris
ditandai oleh metode induktif, suatu inferensi bisa disebut induktif bila
bertolak dari pernyataan-pernyataan tunggal, seperti gambaran mengenai hasil
pengamatan dan penelitian orang sampai pada pernyataan-pernyaatn universal.
Menurut David Hume (1711-1716), pernyataan yang
berdasarkan observasi tunggal betapa pun besar jumlahnya, secara logis tak
dapat menghasilkan suatu pernyataan umum yang tak terbatas. Jadi Dalam induksi
setelah diperoleh pengetahuan, maka akan dipergunakan hal-hal lain. Berdasarkan
hal tersebut maka induksi dalam pengetahuan disebut juga denan pengetahuan sintetik.
2.
Metode Deduktif
Deduksi merupakan suatu metode yang menyimpulkan
bahwa data empirik diolah lebih lanjut dalam suatu sistem pernyataan yang
runtut. (Tim Dosen Filsafat Ilmu, 1996:109).
Hal-hal yang harus ada dalam metode deduktif ialah adanya perbandingan logis
antara kesimpulan-kesimpulan itu sendiri.
3.
Metode Positivisme
Metode ini dikeluarkan oleh August Comte
(1798-1857). Metode ini berpangkal dari apa yang telah diketahui, yang faktual,
yang positif. Ia mengenyampingkan segala uraian atau persoalan di luar yang ada
sebagai fakta. Oleh karena itu ia menolak metafisika. Apa yang diketahui
secarapositif, adalah segala yang tampak dan segala gejala-gejala. Dengan
demikian metode ini dalam idang filsafat dan ilmu pengetahuan dibatasi kepada
bidang gejala-gejala saja.
Menurut Comte, perkembangan pemikiran manusia
berlangsung dalam tiga tahap yaitu teologis, metafisis, dan positif. Pada tahap
teologis, orang berkeyakinan bahwa dibalik segala sesuatu tersirat pernyataan
kehendak khusus. Pada tahap metafisik, kekuatan adikodrati itu diubah menjadi
kekuatan yang abstrak, yang kemudian dipersatukan dalam pengertian yan bersifat
umum yang disebut alam dan dipandang sebagai asal dari segala gejala.
Menurutnya kedua hal tentang teologis dan metafisik
dipandang tak berguna. Yang penting adalah menemukan hukum-hukum kesamaan dan
urutan yang terdapat pada fakta-fakta dengan pengamatan dan penggunaan akal.
4.
Metode Kontemplatif
Metode ini mengatakan adanya keterbatasan indera dan
akal manusia untuk memperoleh pengetahuan sehingga objek yang dihasilkan pun
akan berbeda-beda harusnya dikembangkan suatu kemampuan akal yang disebut
dengan intuisi. Pengetahuan yang bereda-beda ini bisa diperoleh dengan cara
berkontemplasi seperti yan dilakukan oleh Al-Ghazali.
Intuisi dalam tasawuf disebut dengan ma’rifat yaitu
penetahuan yang dating dari Tuhan melalui pencerahan dan penyinaran.[[2]]
Al-Ghazali menerapkan bahwa pengetahuan intuisi atau ma’rifat yang disinarkan
oleh Allah secara langsung merupakan pengetahuan yang paling benar. Pengetahuan
yang diperoleh lewat intuisi ini hanya bersifat indifidual.
5.
Metode Dialektis
Metode
dialektis yaitu metode Tanya jawab (Socrates). Sedangkan menurut Plato metode
dialektis adalah diskusi logika. Menurut Gazalba. S (1991:125) dialektika merupakan
metode tanya jawab untuk mencapai kejernihan filsafat. Kini dialektika berarti
tahap logika, yang mengajarkan kaidah-kaidah dan metode-metode penuturan, juga
analisis sistematik tentang ide-ide untuk mencapai apa yang terkandung dalam
pandangan.
Dalam kehidupan sehari-hari dialektika berarti
kecakapan untuk melakukan perdebatan. Menurut Ahmad tafsir, (1990:153) bahwa
Hegel menggunakan metode dialektis untuk menjelaskan filsafatnya, lebih luas
dari itu, menurut Hegel dalam realitas ini berlangsung dialektika. Dan
dialektika disini berarti mengkompromikan hal-hal yang berlawanan. Seperti:
a.
Diktator. Disini manusia diatur dengan baik, tetapi
mereka tidak punya kebebasan (tesis).
b.
Anarki (anti tesis) mempunyai kebebasan tetapi hidup
dalam kekacauan.
c.
Disenteis (tesis dan anti tesis) yaitu Negara
demokrasi. Kebebasan dibatasi oleh undang-undang dan hidup masyarakat tidak
kacau.
E.
Pengaruh Epistemologi dalam Ilmu Pengetahuan
Sebagai teori pengetahuan ilmiah, epistemologi
berfungsi dan bertugas menganalisis secara kritis prosedur yang ditempuh ilmu
pengetahuan. Ilmu pengetahuan harus berkembang terus, sehingga tidak jarang
temuan ilmu pengetahuan ditentang atau disempurnakan oleh temuan ilmu
pengetahuan yang kemudian.
Epistemologi juga membekali daya kritik yang tinggi
terhadap konsep-konsep atau teori-teori yang ada. Penguasaan epistemologi,
terutama cara-cara memperoleh pengetahuan sangat membantu seseorang dalam
melakuakan koreksi kritis terhadap bangunan pemikiran yang diajukan orang lain
maupun dirinya sendirinya. Sehingga perkembangan ilmu pengetahuan relatif mudah
dicapai, bila para ilmuwan memperkuat penguasaannya.
Secara global epistemologi berpengaruh terhadap
peradaban manusia. Suatu peradaban sudah tentu dibentuk oleh teori
pengetahuannya. Epistemologilah yang menentukan kemajuan sains dan teknologi.
Dan epistemologi menjadi modal dasar dan alat strategis dalam merekayasa
pegembangan alam menjadi sebuah produk sains yang bermanfaat bagi kehidupan
manusia. Demikian halnya yang terjadi pada teknologi meskipun teknologi sebagai
penerapan sains, tetapi jika dilacak lebih jauh ternyata teknologi sebagai
akibat dari pemanfaatan dan pengembangan epistemologi.
Ilmu pengetahuan memiliki peranan penting dalam
membentuk peradaban dan budaya manusia, berdasarkan hal itu muncul
kecenderungan para ilmuwan untuk lebih berinovasi untuk menemukan dan
merumuskan ilmu pengetahuan berikutnya. Dan segala perkembangan ilmu
pengetahuan tidak luput dari adanya epistimologi pengetahuan.
Adapun beberapa teori kebenaran epistemologi menurut
Endang Saifuddin Anshari (dalam H. Mumuh M. Zakaria, 2008) adalah teori
kebenaran dapat ditentukan dengan :
a.
Teori Koherensi atau Konsistensi (The Consistence or
Coherence Theory of Truth).
Pertama: Kebenaran
ialah kesesuaian antara suatu pernyataan dengan pernyataan-pernyataan lainnya
yang sudah lebih lebih dahulu diketahui, diterima dan diakui sebagai benar. Kedua: Suatu putusan dianggap benar
apabila mendapat penyaksian (pembenaran) oleh putusan-putusan lainnya yang
terdahulu yang sudah diketahui,diterima dan diakui benarnya. Teori ini dianut
oleh mazhab idealisme. Penggagas teori ini adalah Plato (427-347 S.M.) dan
Aristoteles (384-322 S.M.), selanjutnya dikembangkan oleh Hegel dan F.H.
Bradley (1864-1924).
Sedangkan menurut sumber lain kebenaran koherensi
adalah kebenaran ditegakkan atas hubungan antara putusan yang baru itu dengan
putusán-putusan lainnya yang telah kita ketahui dan di akui kebenarannya
terlebih dahulu. Menurut teori ini,
putusan yang satu dengan yang Iainnya saling berhubungan dan saling menerangkan
satu sama lain. Karenanya lahirlah rumusan: “Truth
is a systematic coherence” kebenaran adalah saling hubungan yang
sistematis; “Truth is consistency”
kebenaran adalah konsistensi dan kecocokan.
Teori konsistensi atau koherensi ini berkembang pada
abad ke-19 dibawah pengaruh Hegel dan diikuti oleh pengikut mazhab idealisme.
Seperti filsuf Britania F. M Bradley (1864-1924).
Teori ini dapat dinamakan teori penyaksian (justifikasi) tentang kebenaran, karena
menurut teori ini satu putusan dianggap benar apabila mendapat
penyaksian-penyaksian (justifikasi,
pembenaran) oleh putusan-putusan Iainnya yang terdahulu yang sudah
diketahui, diterima, dan diakui benarnya.
b.
Teori Korespondensi (The Correspondence Theory of
Thruth)
Kebenaran adalah kesesuaian antara pernyataan
tentang sesuatu dengan kenyataan sesuatu itu sendiri. Teori ini digagas oleh
Aristoteles (384-322 S.M.), selanjutnya dikembangkan oleh Bertrand Russel
(1872-1970). Penganut teori ini adalah mazhab realisme dan materialisme.
Sedangkan menurut satu sumber lain kebenaran
epistemologis adalah kemanunggalan antara subjek dan objek. Pengetahuan itu
dikatakan benar apabila di dalam kemanunggalan yang sifatnya intrinsik, intensional, dan pasif-aktif
terdapat kesesuaian antara apa yang ada di dalam pengetahuan subjek dengan apa
yang ada di dalam objek. Hal itu karena puncak dan proses kognitif manusia
terdapat di dalam budi atau pikiran manusia (intelectus),
maka pengetahuan adalah benar bila apa yang terdapat di dalam budi pikiran
subjek itu benar sesuai dengan apa yang ada di dalam objek.
Di antara pelopor teori korespondensi ini adalah
Plato, Aristoteles, Moore, Russel, Ramsey, dan Tarski. Teori ini dikembangkan
oleh Bertrand Russell (1872-197O). Seseorang yang bernama K. Roders, seorang
penganut realisme kritis Amerika, berpendapat, bahwa: “keadaan benar ini terletak dalam kesesuaian antara “esensi atau arti
yang kita berikan” dengan “esensi yang terdapat di dalam objeknya””.
c.
Teori Pragmatis (The Pragmatic Theory of Truth)
“Kebenaran suatu pernyataan diukur dengan kriteria
apakah pernyataan tersebut bersifat fungsional dalam kehidupan praktis”; dengan
kata lain, “suatu pernyataan adalah benar jika pernyataan itu mempunyai
kegunaan praktis dalam kehidupan manusia”. Kata kunci teori ini adalah: kegunaan
(utility), dapat dikerjakan (workability), akibat atau pengaruhnya
yang memuaskan (satisfactory
consequencies). Pencetus teori ini adalah Charles S. Pierce (1839-1914) dan
William James (Amerika Serikat).
Menurut sumber lain teori pragmatisme tentang kebenaran,
the pramagtic (pramagtist) theory of
truth. Menurut filsafat ini benar tidaknya suatu ucapan, dalil atau teori
semata mata bergantung kepada asas manfaat. Sesuatu dianggap benar jika
mendatangkan manfaat dan akan dikatakan salah jika tidak mendatangkan manfaat.
Menurut teori pragmatisme, suatu kebenaran dan suatu pernyataan diukur dengan
kriteria apakah pernyataan tersebut bersifat fungsional dalam kehidupan
manusia.
Selain itu ada satu sumber yang menjelaskan bahwa
Agama termasuk teori kebenaran. Manusia adalah makhluk pencari kebenaran. Salah
satu cara untuk menemukan suatu kebenaran adalah melalui agama. Agama dengan
karakteristiknya sendiri memberikan jawaban atas segala persoalan asasi yang
dipertanyakan manusia; baik tentang alam, manusia, maupun tentang Tuhan. Kalau
ketiga teori kebenaran sebelumnya lebih mengedepankan akal, budi, rasio, dan
reason manusia, dalam agama yang dikedepankan adalah wahyu yang bersumber dan
Tuhan.
Dengan demikian, suatu hal itu dianggap benar
apabila sesuai dengan ajaran agama atau wahyu sebagai penentu kebenaran mutlak.
OIeh karena itu, sangat wajar ketika Imam AL-Ghazali merasa tidak puas dengan
penemuan-penemuan akalnya dalam mencari suatu kebenaran. Akhirnya Al-Ghazali
sampai pada kebenaran yang kemudian dalam tasawuf setelah dia mengalami proses
yang amat panjang dan berbelit-belit.
Tasawuflah yang menghilangkan keragu-raguan tentang
segala sesuatu. Kebenaran menurut agama inilah yang dianggap oleh kaum sufi
sebagai kebenaran mutlak; yaitu kebenaran yang sudah tidak dapat diganggu gugat
lagi. Namun Al-Ghazali tetap merasa kesulitan menentukan kriteria kebenaran.
Akhirnya kebenaran yang di dapatnya adalah kebenaran subjektif atau
inter-sujektif.
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Epistemologi adalah bagian filsafat yang
membicarakan tentang terjadinya pengetahuan, sumber pengetahuan, asal mula
pengetahuan, batas-batas, sifat metode dan keahlian pengetahuan. Oleh karena
itu sistematika penulisan epistemology
adalah terjadinya pengetahuan, teori kebenaran, metode-metode ilmiah dan
aliran-aliran teori pengetahuan. (Sudarsono, 2001 : 138).
Epistemologi
mencakup pertanyaan yang harus dijawab, apakah ilmu itu, dari mana asalanya,
apa sumbernya, apa hakikatnya, bagaimana membangun ilmu yang tepat dan benar,
apa kebenaran itu, mungkinkah kita mencapai ilmu yang benar, apa yang dapat
kita ketahui, dan sampai manakah batasannya. Semua pertanyaan itu dapat
diringkas menjadi dua masalah pokok, masalah sumber ilmu dan masalah benarnya
ilmu. (Mujamil Qomar, 2005:4).
Objek
epistemologi ini menurut Jujun S. Surya suamantri (1990:105) berupa “Segenap
proses yang terlibat dalam usaha kita untuk memperoleh pengetahuan.” Tujuan
epistemologi bukanlah hal yang utama untuk menjawab pertanyaan, apakah kita
dapat tahu, tetapi untuk menemukan syarat-syarat yang memungkinkan kita dapat
tahu.
Landasan
epistemologi ilmu disebut metode ilmiah, yaitu cara yang dilakukan ilmu dalam
menyusun pengetahuan yang benar. Metode ilmiah merupakan prosedur dalam
mendapatkan pengetahuan yang disebut ilmu.
Epistemologi
berpengaruh terhadap peradaban manusia. Suatu peradaban sudah tentu dibentuk
oleh teori pengetahuannya. Epistemologilah yang menentukan kemajuan sains dan
teknologi. Dan epistemologi menjadi modal dasar dan alat strategis dalam
merekayasa pegembangan alam menjadi sebuah produk sains yang bermanfaat bagi
kehidupan manusia.
B.
Saran
Sebagaimana makhluk lainnya, manusia tidak luput
dari kesalahan dan setiap kesalahan akan diminta pertanggung jawaban.
Berdasarkan kalimat tersebut team penulis ingin menyampaikan satu kalimat yang
mungkin akan memberikan motivasi kepada kita semua. Bahwasanya “Perbedaan
bukanlah hambatan namun perbedaan menjadi tolak ukur untuk kita menjadi lebih
baik”.
Wassalam….
DAFTAR PUSTAKA
1.
Prof.
Dr. Abdullah, Idi. Med. (2011). Filsafat Pendidikan.
2.
Prof.
Dr. Bakhtiar, A. (2013). Filsafat Ilmu. Jakarta: PT. Raja
Grafindo Persada.
3.
Sudarsono, (2001).
Ilmu Filsafat Suatu Pengantar , Jakarta: PT. Rineka Cipta.
4.
Surajiyo, (2008).
Ilmu filsafat Suatu Pengantar, Jakarta: PT. Bumi Aksara.
6. http://philoshopyworld.wordpress.com/2012/11/09/epistemologi-makalah/ di unduh tanggal 12-12-2013.
8. Tim Dosen Filsafat Ilmu; Filsafat
Ilmu, (Yogyakarta: Liberty, 1996), hlm. 109
9. Sumantri, Jujun S. (1990). Filsafat
Ilmu sebuah pengantar Populer, Jakarta: Pustaka Sinar Harapan.
10. Mujammil
Qomar, (2005). Epistemologi Pendidikan Islam: dari metode rasional
hingga metode kritik, Jakarta: PT. Erlangga.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar